Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting 1

Dinamika Perkuliahan Semasa di Rumah Aja

Entah sampai kapan pandemi ini akan berakhir. Dampak pandemi virus corona tidak saja berimbas pada ranah kesehatan, ekonomi, akan tetapi juga sangat terasa sekali di sektor pendidikan. Perubahan model pembelajaran dari semula dilakukan secara tatap muka, misalnya bergeser ke arah mode perkuliahan tatap maya. Pembelajaran daring (dalam jaringan) - belajar di rumah saja - menjadi trending. Terlepas dari kekurangan mode perkuliahan tatap maya, setidaknya kita mulai melihat fenomena perubahan perilaku belajar. 

dinamika perkuliahan semasa pandemi
Foto oleh Mateusz Dach dari Pexels

Sebelum pandemi, rengekan siswa PAUD/ TK, SD dan SMP hanya sebatas uang jajan dan transpot. Saat pandemi permintaan mereka mulai berubah – ingin memiliki entah notebook, tablet, atau PC. Sedangkan pelajar SMA dan insan dunia kampus yang sebelumnya terbiasa menggunakan peralatan multimedia tersebut, memanfaatkan momentum pandemi untuk meng-upgrade bahkan mengganti gadget yang lama, lagi-lagi dengan alasan untuk menunjang kelancaran pembelajaran tatap maya. Wajar saja permintaan mereka seperti itu. Gadget yang selama ini mereka gunakan semata hanya untuk bersosial media, berubah fungsi menjadi alat utama dalam pembelajaran, termasuk menyelesaikan tugas-tugas belajar/ kuliah. Tentu sisi baiknya, literasi digital mereka meningkat drastis.

Setali tiga uang dengan mahasiswa, dosen pun dipaksa keadaan untuk lebih inovatif dalam perkuliahan tatap maya. Intinya bagaimana dosen mampu menghadirkan atmosfir perkuliahan tatap maya seperti layaknya suasana mode perkuliahan tatap muka. Tentu ini merupakan tantangannya cukup berat bagi tenaga pendidik yang melek digitalnya rendah. 

Hasil refleksi perkuliahan yang telah berlangsung selama 2 semester di masa pandemi dan masih akan berlanjut di semester berikutnya, beberapa catatan-catatan terpenting terkait efektifitas perkuliahan tatap maya.

Pertama, ketersediaan dan kelancaran akses jaringan internet. Capaian hasil belajar mahasiswa secara satitistik tidak jauh berbeda saat mereka kuliah tatap muka dibandingkan perkuliahan tatap maya. Meski pada penilaian aspek sikap tidak optimal. Bisa jadi secara kognitif dan psikomotorik, mahasiswa mampu menyelesaikan tugas, soal UTS dan UAS dengan baik. Namun dosen sulit untuk menilai aspek sikap saat perkuliahan daring. Semisal dengan alasan keterbatasan kualitas jaringan dan kuota, saat kuliah daring menggunakan aplikasi zoom atau aplikasi lainnya, mereka dalam posisi camera off. Dengan camera off, bisa dibayangkan mereka mendengar dan menonton dosen beri kuliah sambil rebahan dan sarungan. Bahkan mungkin tidak menyimak dengan seksama, karena pada saat bersamaan mengerjakan aktifitas lainnya, setrika, cuci piring, dan lain-lain. Tentu hal ini tidak mungkin terjadi saat kuliah tatap muka.

Kedua, keandalan peralatan pendukung perkuliahan tatap maya. Bisa jadi tidak semua siswa atau mahasiswa di daerah tertinggal, terluar dan terjauh (3T) memiliki sumberdaya belajar untuk kelancaran perkuliahan daring. Jangankan notebook, tablet, PC, bahkan handpone pun kemampuan beli mereka terbatas. Ternyata setali tiga uang dengan sejawatnya di perkotaan, meski berbeda isunya. Manakala siswa dan mahasiswa 3 T menghadapi persoalaan ketidakmampuan memiliki peralatan tersebut, siswa dan mahasiswa perkotaan menghadapi persoalan keandalan spesifikasi dan fitur media belajar yang dimiliki, entah itu PC, notebook, tablet yang tidak mumpuni. Bayangkan saat perkuliahan daring atau menyelesaikan soal-soal UTS dan UAS secara online berlangsung, tiba-tiba PC/notebook atau tablet mereka hang karena beban berat loading file berupa gambar dan video. Persoalan berlanjut karena mereka tidak punya cukup informasi tentang spesifikasi peralatan multimedia yang baik untuk menunjang kelancaran perkuliahan daring.

Ketiga, masalah kesehatan mental. Siswa dan mahasiswa adalah kelompok usia muda yang butuh pergaulan sosial. Sebelum pandemi tentu kebutuhan ini mudah terpenuhi, namun terbatas saat pandemi. Beberapa kampus menerapkan kebijakan PSBB sesuai aturan pemerintah. Pembatasan sosial seperti ini tentunya dari aspek psikologi tidak baik, semisal rasa jenuh berlebihan dan stres. Window shopping dibatasi, hang out juga dibatasi. Akibatnya rasa bosan dan stress di rumah saja tidak terhindari. Tidak heran banyak siswa dan mahasiswa yang menghabiskan sisa waktu setelah kuliah daring digunakan untuk bermain games. Meski aplikasi games yang mereka mainkan terbatas, seiring terbatasnya kemampuan dan spesifikasi peralatan digital yang mereka miliki. Kalau pun mereka paham tentang spesifikasi, namun bingung harus beli di toko komputer mana? dan vendor mana yang dapat dipercaya sekaligus memiliki layanan online.

Sobat dunia kampus yang ingin mengganti peralatan multimedia pendukung perkuliahan tatap maya, tidak perlu khawatir. Vendor yang menawarkan one stop solusion kebutuhan IT diantaranya Yolori. Yolori berkomitmen memberikan pengalaman berbelanja online yang aman, nyaman, mudah, menyenangkan, dimana saja dan kapan saja. Yolori menghadirkan ribuan produk IT pilihan untuk memenuhi kebutuhan IT anda yang tersusun secara rapi dan sistematis per kategori. Mulai dari kategori Notebook, Desktop, Monitor, Workstation, Server, Networking, Storage, Software, dan lain-lain. Bagi sobat yollower yang mencari toko komputer online, gak perlu repot cari di Jakarta notebook tapi juga bisa di Yolori saja. Sobat dunia kampus bisa mengunjungi http://yolori.com/pages/cara-memilih-komputer [ ]