Postingan

Menampilkan postingan dengan label Klinik Menulis

Tips dan Trik Tembus Jurnal Ilmiah Bereputasi

Gambar
Oleh: Dedi Purwana Sobat dunia kampus, menulis artikel untuk dipublikasikan pada jurnal ilmiah bereputasi, tentu berbeda dengan menulis artikel opini. Energi, waktu, dan biaya yang dicurahkan untuk menulis artikel ilmiah lebih besar dibanding menulis artikel opini. Kewajiban mempublikasikan produk skripsi, tesis dan disertasi pada jurnal ilmiah menjadi momok tersendiri bagi insan dunia kampus. Bahkan sebenarnya kewajiban ini pun menjadi beban berat bagi dosen. Bagaimana tidak menjadi beban, sementara universitas mewajibkan mahasiswa publikasi ilmiah sedangkan dosen tidak mampu menjadi role model bagaimana menulis artikel ilmiah yang mampu menembus jurnal bereputasi. Jangankan tembus jurnal ilmiah bereputasi, untuk sekedar mempublikasikan artikel ilmiah di jurnal lokal masih belum mampu. Foto oleh Andrea Piacquadio dari Pexels   Tulisan ini mencoba memberikan guideline strategi tembus jurnal ilmiah bereputasi, entah nasional maupun internasional. Menyadur dari buku “ Lincah Menuli

7 Tips Menentukan Topik (bukan judul) Skripsi

Gambar
Skripsi merupakan produk karya ilmiah sebagai luaran akhir program sarjana, selain tentu telah menyelesaikan sejumlah mata kuliah. Dengan jumlah SKS yang cukup besar dan harus dipertahankan melalui sidang/ ujian akhir, pantas saja menjadi momok menakutkan bagi sebagian mahasiswa yang alergi terhadap makhluk ini. Foto oleh  Suzy Hazelwood  dari  Pexels Betapa tidak, meski seluruh mata kuliah telah ditempuh dengan predikat lulus namun bila belum menyelesaikan skripsi, angan-angan untuk mengikuti wisuda menjadi “Ambyar” – meminjam istilah almarhum Didi Kempot. Sejatinya mahasiswa tidak perlu alergi. Modal awal sudah didapatkan saat mengikuti mata kuliah metodologi penelitian dan lanjutannya semisal, statistika dan tentunya setiap kampus telah menyiapkan buku pedoman penulisan skripsi. Sebenarnya hanya tinggal niat dan motivasi kuat mahasiswa untuk secepat mungkin tidak membebani dompet orang tua/ wali. Betapa tidak, semakin lama mahasiswa menyelesaikan studi, semakin kempis dompet

Hindari 4 Jenis Plagiarisme!

Gambar
Oleh: Dedi Purwana dan Agus Wibowo Artikel sebelumnya “ Plagiarisme, Momok Menakutkan ” mengungkap betapa beratnya risiko yang harus dihadapi seseorang manakala terindikasi dan terbukti melakukan tindakan plagiat. Maraknya pelanggaran etika akademik akibat rendahnya pemahaman insan akademik dan juga masyarakat umum tentang plagiarism itu sendiri. Entah itu ketidakpahaman tentang pengertian, atau juga cakupan plagiasi itu sendiri. https://www.pexels.com/id-id/foto/alfabet-bermain-cermin-game-695571/ Pemerintah Indonesia tidak mau kompromi dengan kejahatan plagiarisme. Lebih-lebih, semenjak maraknya kasus plagiarisme di dunia akademik. Sebagai informasi , sejak tahun 2010 Kementrian Pendidikan Nasional menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 17 Tahun 2010. Pada pasal 1 butir 1 disebutkan secara jelas bahwa: “Plagiat adalah perbuatan secara sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengu

POSTINGAN TERPOPULER

7 Tips Menentukan Topik (bukan judul) Skripsi

Teknologi Informasi menjadi Inovasi dalam Berwirausaha?

Perempuan Di Lumbung Kemiskinan