Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting 1

Menulis Artikel Ilmiah – Kesadaran atau Keterpaksaan?

Oleh: Dedi Purwana 

Menulis artikel ilmiah untuk dipublikasikan di jurnal kegiatan yang mengasyikkan. Ini tentu bagi yang sudah terbiasa menulis. Lain halnya, bagi mereka yang tidak terbiasa menulis. Jangankan untuk menulis artikel ilmiah, sekedar menulis artikel opini saja menjadi beban berat. Menuangkan ide dan gagasan ke dalam tulisan memang tidaklah mudah. Perlu latihan intensif agar kemahiran menulis dapat ditingkatkan. Ingatlah, bahwa menyampaikan ide dan pemikiran kita melalui tulisan akan memudahkan pembaca memahami alur pikir ide tersebut.

Menulis Artikel Ilmiah – Kesadaran atau Keterpaksaan?

Rendahnya literasi baca dan tulis merupakan persoalan tersendiri di negara ini. Literasi tulis rendah akibat minat baca yang rendah pula. Mirisnya, kondisi demikian terjadi lingkungan sekolah dan perguruan tinggi. Para akademisi dan guru seolah tidak mampu meningkatkan budaya baca dan tulis. Bagaimana kita berharap mahasiswa dan siswa memiliki minat baca tulis tinggi, manakala sosok panutan mereka tidak terbiasa dengan dunia baca dan tulis. Tidak heran budaya melihat dan mendengar sangat dominan di masyarakat kita. Ironisnya, Sebagian besar dari kita literasi baca tulisnya tinggi ketika menggunakan sosmed. Berita hoaks pun ditelan mentah-mentah tanpa saringan. Tapi jika diminta baca buku teks atau artikel jurnal, serasa horor.

Mengapa harus menulis artikel ilmiah?

Fakta menunjukkan bahwa produktifitas publikasi pada jurnal ilmiah para peneliti dan ilmuwan kita sangat rendah, dibandingkan negara tetangga. Rata-rata publikasi ilmiah akademisi di negara-negara tersebut jauh di atas rata-rata produktifitas peneliti dan ilmuwan di tanah air. Bersyukur pemerintah saat ini menggerakkan literasi baca tulis mulai tingkat sekolah hingga perguruan tinggi. Terlepas kebijakan itu dikaitkan dengan peroleh angka kredit untuk kenaikkan pangkat guru dan dosen, tuntutan pengembangan profesionalisme, atau alasan lainnya, setidaknya secara perlahan mampu meningkatkan;

Pertama, budaya baca. Jangkauan artikel jurnal tidak terbatas hanya pada tataran lokal (lembaga atau PT yang memiliki jurnal ilmiah), akan tetapi nasional dan bahkan internasional. Terlebih bagi jurnal berkategori open access, mampu meningkatkan budaya baca masyarakat, khusus komunitas keilmuan. Format jurnal saat ini tidak saja dituntut memiliki versi cetak, akan tetapi juga dalam bentuk online.

Kedua, budaya analisis. Berbeda dengan karya tulis lain (opini, fitur, buku), membaca artikel jurnal mampu secara perlahan meningkatkan kemampuan analisis pembacanya. Pada bagian kajian pustaka, misalnya tercermin bagaimana penulis menganalisis secara mendalam teori dan konsep terkait permasalahan penelitian. Selain itu, pada bagian results dan discussion artikel dipaparkan hasil analisis data temuan penelitian.(silakan baca postingan "Mengapa artikel ilmiah ditolak?")

Ketiga, budaya tulis. Sekali seseorang sukses menerbitkan artikel pada jurnal ilmiah, dorongan untuk menulis lagi akan semakin kuat. Ada rasa bangga, manakala artikel hasil penelitian diterbitkan di jurnal terindeks. Untuk menghasilkan tulisan yang baik, tentu budaya baca juga harus tinggi.

Keempat, budaya menghargai karya orang lain. Artikel yang baik akan selalu menghindari ketidakjujuran akademis, semisal plagiasi, fabrikasi data, dan falsifikasi data. Penulis yang baik akan menjunjung tinggi etika penulisan. Dengan demikian budaya menghargai karya orang lain sangat ditegakkan dalam komunitas peneliti dan ilmuwan.

Kelima, budaya berbagi. Sifat peneliti dan ilmuwan sejati adalah mau berbagi pengetahuan kepada masyarakat luas. Ini adalah bagian tanggung jawab moral peneliti dan ilmuwan. Dengan mempublikasikan hasil penelitian pada jurnal sebagai wujud dari tanggung jawab moral tersebut.

Kesadaran atau Keterpaksaan?

Bagi hampir sebagian besar akademisi dan guru, menulis artikel jurnal merupakan momok menakutkan. Keengganan menulis artikel jurnal, mengakibatkan hasil-hasil penelitian hanya teronggok di gudang. Fungsi diseminasi hasil penelitian tidak berjalan, toh pertanggungjawaban keuangan sudah dilakukan dalam wujud laporan hasil penelitian. Ingatlah bahwa peneliti atau ilmuwan memiliki kewajiban moral untuk mengumumkan hasil, temuan, simpulan, serta implikasi  dari hasil penelitian atau telaah pada publik. Bukan sekedar penghuni rak-rak perpustakaan tanpa dibaca luas oleh publik.

Menulis artikel untuk jurnal ilmiah memang berbeda dibandingkan karya tulis lainnya. Artikel ilmiah mengikuti standar penulisan khas untuk dapat dipublikasikan di jurnal baik nasional maupun internasional. Gaya selingkung, tata bahasa, notasi ilmiah, dan format tulisan antar satu jurnal dengan jurnal lainnya memiliki kemiripan. Artikel jurnal biasanya berupa paparan hasil penelitian yang telah dilakukan. Sesuai definisi, jurnal ilmiah adalah bentuk terbitan yang berfungsi meregistrasi kegiatan kecendekiaan, mensertifikasi hasil kegiatan yang memenuhi persyaratan ilmiah minimum, mendiseminasikannya secara meluas kepada khalayak ramai, dan mengarsipkan semua temuan hasil kegiatan kecendekiaan ilmuwan yang dimuatnya.

Gairah menulis artikel jurnal nampaknya mulai menggeliat seiring bergulirnya regulasi kebijakan pemerintah dalam proses kenaikan pangkat tenaga fungsional (Guru, Dosen, Pustakawan, Peneliti). Ini menjadi alasan mengapa mereka berlomba untuk mempublikasikan karya ilmiah dalam jurnal baik bereputasi ataupun tidak (pelajari dengan seksama Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan  Angka Kreditnya; Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 17 tahun 2013 tentang Jabatan Fungsional Dosen dan Angka Kreditnya dan Nomor 46 tahun 2013 tentang perubahannya; dan Pedoman Operasional Penilaian Angka Kredit Kenaikan Pangkat/ Jabatan Akademik Dosen, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi tahun 2014 dan direvisi tahun 2019). Idealnya, jurnal yang dipilih adalah yang sudah terkareditasi karena penghargaan kredit point bagi artikel yang dimuatnya cukup besar. Namun demikian, bagi penulis pemula dapat dimulai terlebih dahulu dengan jurnal yang belum terakreditasi atau jurnal yang diterbitkan di perguruan tingginya sendiri.

Pada saat yang sama, pemerintah pun menyediakan insentif menarik bagi para peneliti dan ilmuwan yang berhasil mempublikasikan artikelnya pada jurnal internasional bereputasi. Semua ini dimaksudkan untuk mengejar ketertinggalan produktifitas publikasi ilmiah negara ini dibandingkan negara tetangga lainnya. Bahkan keluar surat edaran Ditjen Dikti yang mewajibkan mahasiswa S1 mempublikasikan skripsi di jurnal, mewajibkan mahasiswa S2 mempublikasikan tesisnya di jurnal nasional terakreditasi, dan mahasiswa S3 wajib publikasi disertasinya pada jurnal internasional.

Diantara para akademisi, guru, peneliti dan ilmuwan, masih ada meski jumlahnya sedikit dengan kesadaran penuh (bukan terpaksa) rutin mempublikasikan hasil penelitiannya di jurnal. Mereka bertindak atas dasar aktualisasi diri sebagai intelektual dalam komunitas keilmuan sejenis. Orientasi mereka lebih kepada kepuasan batin sebagai peneliti yang dapat menyebarluaskan temuan penelitian untuk dimanfaatkan masyarakat luas. Perolehan angka kredit untuk kenaikan pangkat dan jabatan akademik hanyalah imbas dari pemenuhan kapasitas intelektual. Mari kita budayakan rajin menulis artikel ilmiah di lingkungan institusi pendidikan, agar bangsa ini mampu bersaing di ranah internasional terkait publikasi ilmiah. Tertarik untuk mengetahui bagaimana tips & trik menulis artikel ilmiah dengan baik, silakan baca buku Lincah Menulis Artikel Ilmiah Populer & Jurnal (Teori & Praktik).

 

Posting Komentar untuk "Menulis Artikel Ilmiah – Kesadaran atau Keterpaksaan?"