Hindari 4 Jenis Plagiarisme!

Oleh: Dedi Purwana dan Agus Wibowo

Artikel sebelumnya “Plagiarisme, Momok Menakutkan” mengungkap betapa beratnya risiko yang harus dihadapi seseorang manakala terindikasi dan terbukti melakukan tindakan plagiat. Maraknya pelanggaran etika akademik akibat rendahnya pemahaman insan akademik dan juga masyarakat umum tentang plagiarism itu sendiri. Entah itu ketidakpahaman tentang pengertian, atau juga cakupan plagiasi itu sendiri.

jenis plagiarisme dalam dunia kampus
https://www.pexels.com/id-id/foto/alfabet-bermain-cermin-game-695571/

Pemerintah Indonesia tidak mau kompromi dengan kejahatan plagiarisme. Lebih-lebih, semenjak maraknya kasus plagiarisme di dunia akademik. Sebagai informasi, sejak tahun 2010 Kementrian Pendidikan Nasional menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 17 Tahun 2010. Pada pasal 1 butir 1 disebutkan secara jelas bahwa: “Plagiat adalah perbuatan secara sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan/atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai.”

Selanjutnya, Pasal 2 Ayat (1) berbunyi: “Plagiat meliputi tetapi tidak terbatas pada: a) Mengacu dan/atau mengutip istilah, kata-kata dan/atau kalimat, data dan/atau informasi dari suatu sumber tanpa menyebutkan sumber dalam catatan kutipan dan/atau tanpa menyatakan sumber secara memadai; b) Mengacu dan/atau mengutip secara acak istilah, kata-kata dan/atau kalimat, data dan/atau informasi dari suatu sumber tanpa menyebutkan sumber dalam catatan kutipan dan/atau tanpa menyatakan sumber secara memadai; c) Menggunakan sumber gagasan, pendapat, pandangan, atau teori tanpa menyatakan sumber secara memadai; d) Merumuskan dengan kata-kata dan/atau kalimat sendiri dari sumber kata-kata dan/atau kalimat, gagasan, pendapat, pandangan, atau teori tanpa menyatakan sumber secara memadai; dan d) Menyerahkan suatu karya ilmiah yang dihasilkan dan/atau telah dipublikasikan oleh pihak lain sebagai karya ilmiahnya tanpa menyatakan sumber secara memadai.

Definisi dan klasifikasi dalam peraturan di atas masih sumir dan bersifat umum. Pada kenyataannya, terdapat banyak sekali definisi mengenai plagiarisme, sehingga seringkali membingungkan. Karena definisi yang bermacam-macam itu pula, maka para ahli juga membuat klasifikasi plagiarisme yang berbeda-beda. Namun secara umum terdapat kesamaan dari para ahli dalam membuat klasifikasi plagiarisme, yaitu tergantung dari berbagai aspek pandang. Adapun jenis-jenis plagiarisme menurut Sudigdo Sastro Asmoro (2007:240-243) dalam artikelnya “Few Notes on Plagiarism, di antaranya:

Pertama, Plagiarisme berdasarkan aspek utama yang diambil. Klasifikasi ini meliputi:

  1. Plagiarisme ide. Plagiarisme ide ini lebih sering dikaitkan dengan dunia tulis menulis dan jurnalistik. Namun sebenarnya, plagiarisme juga terjadi dalam dunia musik, seni lukis, desain, bahkan dunia industri. Plagiarisme ide lebih sering tidak kelihatan, ketimbang jenis lainnya. Mengapa? Karena secara awam kita sukar membedakan ide itu plagiat atau bukan. Singkatnya, benar ide hasil dari plagiat tetapi pengemasannya menggunakan bahasa sang pengambil sendiri. Model plagiarisme ide ini dalam dunia akademik misalnya kita mengenal penelitian replikatif. Penelitian replikatif adalah penelitian yang secara garis besar mengulang penelitian orang lain, dengan maksud untuk menambah data, menguji hipotesis apakah hasil yang sudah ditemukan dalam suatu populasi berlaku pula untuk populasi yang lain. Sering terjadi kasus seorang oknum peneliti mengambil ide bahkan mengambil desain serta analisis dari penelitian sebelumnya. Singkatnya, desain dan analisi sama dan sebangun dengan penelitian sebelumnya. 
  2. Plagiarisme isi (bisa mencakup data penelitian). Dalam penelitian ilmiah, seorang peneliti dengan alasan tidak memiliki data, mengambil data dari peneliti lain atau sebelumnya. Tindakan ini disebut fabrikasi atau falsifikasi data. Tindakan ini masuk kriteria plagiarisme jika data yang diambil dibuat seolah-olah data peneliti sendiri, serta tidak menyebutkan sumber rujukan yang jelas. Model demikian masuk dalam kriteria plagiarisme berat.
  3. Plagiarisme kata, kalimat, dan paragraf. Plagiarisme kata, kalimat dan paragraf ini mudah sekali dideteksi. Penulis mengambil kata, kalimat dan  paragraf penulis lain dan dibuat seolah-olah merupakan karya sendiri. Untuk menghindari plagiarisme tersebut, kita harus mengambil substansinya dan menulis ulang dengan bahasa sendiri. Jangan lupa sumber rujukan tetap harus dicantumkan.
  4. Plagiarisme total. Plagiarisme model ini juga amat mudah dikenali. Pasalnya ada yang mengambil keseluruhan artikel milik penulis lain, dan hanya mengganti namanya saja. Model plagiarisme ini harus dihindari jauh-jauh. Bukan saja dilarang, tetapi sangat melanggar etika penulisan. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, agar kita terhindar dari plagiarisme total ini, usahakan setiap mengambil ide dari orang lain harus dibahasakan dengan kalimat sendiri dan sumber rujukan dicantumkan. Langkah mencantumkan sumber rujukan atau kutipan itu tidak akan membuat kita malu, tetapi justru kita terhindar dari tindak plagiarisme.

Kedua, Plagiarisme berdasarkan sengaja atau tidaknya. Jenis ini mencakup:

  1. Plagiarisme sengaja. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, plagiarisme sengaja ini adalah menyuruh orang lain dengan imbalan yang telah disepakati untuk membuatkan artikel, makalah atau karya intelektual,  kemudian menyatakan bahwa karya itu merupakan karyanya sendiri. Selain cara plagiarisme sebagaimana diuraikan, tindakan mengkopi sebagian teks atau keseluruhan dari sebuah sumber kemudian memasukkannya dalam karya intelektualnya, kemudian menginformasikan bahwa itu merupakan hasil karya sendiri, merupakan jenis plagiarisme sengaja. Termasuk katagori plagiarisme sengaja lainnya adalah mengambil sebagian atau keseluruhan artikel/karya intelektual orang lain tanpa mencantumkan sumbernya secara jelas, meskipun telah dibahasakan dengan bahasa sendiri.
  2. Plagiarisme tidak sengaja. Plagiarisme tidak sengaja ini adalah memindahkan kalimat atau paragraf  hasil intelektual orang lain ke dalam artikel disertai dengan sumbernya, tetapi tidak dalam bentuk kutipan langsung. Plagiarisme tidak sengaja ini, menurut Wray dan Bloomer (2006:238) dalam karyanya Projects in Linguistics: A Practical Guide to Researching Language, sebagian besar terjadi karena beberapa hal: 

1)   Penulisnya kurang hati-hati dalam membuat catatan. Karena dikejar target selesai membuat artikel/laporan ilmiah/makalah dan karya intelektual lainnya, si penulis kurang hati-hati sehingga tidak mencantumkan rujukan yang diambilnya.

2)   Penulisnya kurang mahir dalam melaporkan ulang data atau informasi. Menulis pada dasarnya adalah membahasakan data atau fakta informasi menjadi uraian yang menarik. Menulis memang sulit bagi mereka yang belum terbiasa. Tidak heran ketika mereka mendapatkan data dari sebuah sumber tertulis, mereka kesulitan dalam mengalihbahasakan atau memanipulasi data. Akibatnya, penulis yang kurang mampu membahasakan data atu informasi itu akan mengambil sumber apa adanya, atau istilahnya ambil jadi dan “menempelkannya” pada karya intelektual miliknya.

3)   Penulisnya tidak memahami batasan-batasan plagiarisme, sehingga ia tidak sadar telah melakukan plagiarisme itu sendiri. Akibat kurang tegasnya batasan-batasan mengenai plagiarisme, banyak pihak yang tidak sadar melakukan plagiarisme.

Ketiga, Plagiarisme berdasarkan proporsi atau persentasi kata, kalimat, dan paragraf yang diambil. Pengelompokkannya mencakup: a) Plagiarisme ringan: kurang dari 30 persen, b) Plagiarisme sedang, sekitar 30 sampai 70 persen, dan c) Plagiarisme berat, lebih dari 70 persen. Namun demikian, saat ini prosentase tersebut semakin mengecil baik untuk proses kepangkatan jabatan akademik dosen maupun kebijakan pengelola masing-masing jurnal atau redaksi media masa.

Keempat, Plagiarisme berdasarkan polanya. Klasifikasi ini mencakup:

  1. Plagiarisme kata demi kata. Plagiarisme kata-demi-kata  atau word for word plagiarism ini merupakan model plagiarisme yang amat mudah dikenali. Yang diplagiasi dapat berupa kalimat dalam sebuah paragraf, ataupun secara keseluruhan dalam sebuah artikel/karya intelektual. Silahkan baca artikel "Menulis Paragraf Artikel OPINI".
  2. Plagiarisme mosaik. Jenis plagiarisme ini adalah mengambil kata-kata dari sumber lain/penulis lain, namun dengan cara diselang-seling atau disisipkan di antara gagasannya sendiri. Model plagiasi ini sangat sulit dideteksi, karena sepintas orang akan beranggapan bahwa itu benar-benar hasil pemikiran si penulis. Yang bisa mendeteksi model plagiasi mosaik ini biasanya si pemilik sumber atau penulis artikel/karya  intelektual tersebut. Pasalnya, penulis sejati itu memahami tulisannya sebagaimana ia memahami dirinya, keluarga bahkan seluruh miliknya. Proses menulis tidak saja melibatkan pikiran, rasa, dan imajinasi secara total. Tulisan bagi penulis laksana salah satu anggota badan; ketika satu sakit atau hilang, akan  dirasakan anggota badan yang lain. Jadi wajar jika satu paragraf bahkan satu kalimat saja tulisan seorang penulis dikutip orang, yang bersangkutan akan segera menyadarinya. 
  3. Autoplagiarism atau self-plagiarism. Apabila kita mengajukan/ mempublikasikan makalah, artikel atau karya intelektual lainnya yang sudah pernah diajukan/dipublikasikan sebelumnya, maka kewajiban kita adalah menyatakan secara ekplisit bahwa karya intelektual tersebut pernah diajukan/dipublikasikan. Jika kita tidak melakukan penjelasan atau klarifikasi tersebut, maka kita termasuk melakukan plagiarisme jenis auto-plagiarism atau juga dikenal dengan sebutan self-plagiarism. Sebagian besar para ahli berpendapat jika plagiarisme jenis ini masuk katagori  “berkualifikasi ringan.” Meskipun demikian, jika auto-plagiarism atau self-plagiarism ini dimaksudkan atau dimanfaatkan untuk menambah kredit akademik, jenis plagiarisme tersebut  dapat dianggap pelanggaran etika akademik yang berat.

Memahami dengan baik definisi dan klasifikasi plagiarisme, akan membantu para penulis pemula terhindar dari pelanggaran etika akademik dengan alas an apapun. Semoga maraknya tindakan plagiasi di tanah air semakin berkurang. Yuk sobat dunia kampus katakan tidak pada plagiarisme!

 

Komentar

POSTINGAN TERPOPULER

7 Tips Menentukan Topik (bukan judul) Skripsi

Teknologi Informasi menjadi Inovasi dalam Berwirausaha?

Perempuan Di Lumbung Kemiskinan