Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Investasi di Tengah Pandemi?

Oleh: Intan Cahyani*

Pada akhir tahun 2019, kita digemparkan dengan datangnya sebuah virus covid-19 yang digadang-gadang berasal dari Wuhan, China. Lalu di awal 2020, tepatnya pada bulan Maret, Indonesia dikabarkan bahwa telah terdapat 2 orang yang terinfeksi virus tersebut. Seiring berjalannya waktu, kasus positif covid-19 ini semakin meningkat. Akhirnya, pemerintah pun segera mengeluarkan kebijakan mengenai PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang diharapkan mampu untuk menekan angka kasus positif covid-19. Dengan adanya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) ini, beberapa kegiatan masyarakat pun hanya dapat dilakukan di rumah, seperti belajar, bermain, bekerja, dll. Namun, kebijakan PSBB ini justru menimbulkan beberapa permasalahan baru di berbagai bidang, seperti bidang kesehatan, pendidikan, perekonomian, dll. Bila dilihat dari segi perekonomian, Indonesia mulai mengalami beberapa penurunan pendapatan, bahkan hingga pada awal november lalu, pemerintah menyatakan bahwa Indonesia resmi resesi. 

Investasi di Tengah Pandemi?
Foto oleh Karolina Grabowska dari Pexels

Dilansir dari www.cnnindonesia.com, “Indonesia resmi memasuki jurang resesi, setelah pertumbuhan ekonomi kontraksi minus 3,49 persen pada kuartal III 2020. Artinya, ekonomi minus selama dua kuartal berturut-turut dari sebelumnya negatif 5,32 persen pada kuartal II 2020.” Dengan adanya pernyataan resmi tersebut, sudah seharusnya sebagai masyarakat Indonesia, harus ada tindakan-tindakan yang dapat dilakukan untuk membantu perekonomian yang ada. Sebenarnya, banyak hal-hal yang dapat dilakukan oleh masyarakat Indonesia untuk membantu perekonomian di Indonesia, salah satu nya adalah dengan melakukan sebuah investasi. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa investasi ini menjadi salah satu komponen yang berperan dalam pendapatan nasional, yaitu Produk Domestik Bruto (PDB), dimana investasi memiliki hubungan yang positif dengan PDB. Jika investasi mengalami kenaikan, maka PDB pun juga akan mengalami kenaikan, begitupun sebaliknya. Maka dari itu, pemerintah hingga saat ini berusaha untuk menarik para investor untuk melakukan investasi di Indonesia supaya dapat menaikkan perekonomian negara Indonesia di tengah pandemi seperti ini. Investasi yang dilakukan bisa berupa investasi emas batangan, investasi saham, investasi obligasi, dll. Untuk itu, masyarakat yang ingin melakukan investasi di tengah pandemi seperti ini, perlu menyikapi nya dengan bijak serta menggunakan beberapa strategi yang nantinya dapat membantu dalam melakukan investasi. Berikut ini merupakan beberapa strategi yang dapat digunakan bagi masyarakat saat terjadi resesi di tengah pandemi seperti saat ini.

Pertama, Ketahui profil risiko. Hal yang pertama sebelum melakukan investasi adalah dengan mengetahui terlebih dahulu mengenai profil risiko diri sendiri untuk menentukan jenis instrumen investasi yang akan diambil. Profil risiko ini terdiri dari agresif, moderat, dan konservatif. Investor agresif adalah orang yang mau membeli produk investasi dengan risiko tinggi. Mereka cenderung tidak bermasalah dengan penurunan tajam imbal hasil (return) atau nilai investasi, asal memiliki potensi untuk mendapatkan return investasi tinggi. Selanjutnya, tipe moderat yakni orang yang mau mengambil sedikit risiko, tapi tidak terlalu besar. Biasanya, tipe ini ingin mendapatkan return yang lebih tinggi dibandingkan hanya bunga deposito dan masih bisa menerima penurunan nilai investasi, tapi tidak besar. Tipe konservatif adalah orang-orang yang tidak mau mengambil risiko dalam berinvestasi. Mereka mau menerima return kecil, asalkan nilai asetnya tidak turun.

Kedua, Memiliki aset likuid dan dana darurat. Selanjutnya, setiap investor dapat memiliki aset likuid, baik itu tipe investor agresif, moderat, ataupun konservatif. Karena resesi yang sedang dihadapi saat ini disebabkan oleh adanya pandemi covid-19, maka perekonomian cenderung mengalami ketidakpastian. Aset likuid sendiri adalah aset yang mudah dicairkan sewaktu-waktu tanpa tingkat kerugian (cut loss). Beberapa aset likuid itu meliputi tabungan, deposito, reksadana pasar uang, dan emas. Selain itu, bila kita ingin melakukan sebuah investasi, sebaiknya kita juga melakukan sebuah persiapan dana darurat yang mudah dicairkan sebelum berinvestasi yang nantinya akan sangat berguna pada saat terjadi kebutuhan mendesak. Untuk menyiasatinya, masyarakat bisa memilah sebagian pendapatannya untuk dana darurat dan sebagian lainnya untuk investasi.

Ketiga, Pilihan instrumen investasi. Instrumen investasi yang bisa dikatakan tepat saat resesi ekonomi adalah instrumen risiko rendah dan mudah dicairkan, yakni deposito. Namun, investor harus menyadari jika return deposito lebih rendah dibandingkan instrumen investasi lainnya. Namun, jika seorang investor tipe moderat, maka bisa mencoba instrumen yang risikonya menengah tapi menawarkan imbal hasil lebih tinggi dari deposito, yakni surat utang (obligasi) ritel, surat utang syariah (sukuk) ritel, emas, reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap, dan emas. Sebaliknya, bagi investor dengan profil agresif, momentum resesi ekonomi ini bisa menjadi peluang untuk menambah portofolio risiko tinggi dengan imbal hasil lebih besar pula, seperti saham dan reksa dana saham. Alasannya, banyak saham yang memiliki kinerja bagus, selain itu, disaat keadaan krisis seperti ini, harga saham yang terdapat di pasar saham mengalami penurunan harga. Namun, ada beberapa catatan bagi investor dengan tipe agresif. Pertama, investasi pada saham dan reksa dana saham tersebut dilakukan untuk jangka panjang 2-3 tahun. Kedua, sebaiknya investasi pada saham dan reksa dana saham dilakukan secara bertahap setiap bulannya sembari memantau kondisi perekonomian. Investor tidak dianjurkan membeli portofolio saham dan reksa dana saham dalam jumlah jumbo sekaligus, kecuali sudah berpengalaman.

Keempat, Tata ulang portofolio investasi. Bagi investor yang sudah lebih dulu terjun pada dunia investasi, sebaiknya melakukan sebuah re-balancing atau menata ulang portofolio investasi nya terlebih dahulu. Investor ini bisa melakukan evaluasi performa investasi nya di tengah resesi ekonomi seperti ini. Adanya re-balancing ini bertujuan untuk mengurangi risiko kerugian pada aset-aset yang kinerjanya turun akibat pandemi covid-19 dan resesi ekonomi. Misalnya, seorang investor memiliki 75 persen investasi di pasar saham, dan 25 persen dalam bentuk tabungan serta logam mulai. Boleh saja, yang di pasar saham ini, untuk menghindari drop (kerugian) bisa rebalancing tadinya 75 persen jadi dikurangi 50 persen atau 30 persen, sisanya ke obligasi atau emas.

Kelima, Alokasi investasi. Kemudian yang terakhir ini, sebaiknya investasi dilakukan jika masyarakat sudah memiliki kemampuan untuk mencukupi kebutuhan primer nya atau kebutuhan sehari-hari nya. Apabila ada uang lebih dan masyarakat sudah memiliki dana darurat, maka idealnya investasi bisa dilakukan. Namun, mungkin untuk masyarakat yang belum bisa mencukupi kebutuhan primer nya, sebaiknya untuk lebih fokus untuk memenuhi kebutuhan primer nya terlebih dahulu supaya tidak terjadi issue (masalah untuk kebutuhan primer). Jika kebutuhan primer sudah tercukupi dan masih ada dana lebih, maka dana tersebut bisa dialokasikan untuk dana darurat dan investasi. Misalnya, 10 persen dari pendapatan untuk dana darurat dan 10 persen untuk investasi.

Kondisi perekonomian di Indonesia yang sudah memasuki resesi ini memang tidak dapat dibantah lagi. Terlebih, kondisi pandemi covid-19 yang hingga saat ini masih belum rampung akan terus membuat perekonomian di Indonesia mengalami ketidakpastian. Maka dari itu, masyarakat Indonesia juga perlu membantu memperbaiki perekonomian agar perekonomian di Indonesi dapat bangkit kembali. Salah satu jalan yang dapat dilakukan oleh masyarakat adalah dengan melakukan sebuah investasi. Namun, untuk melakukan sebuah investasi pun juga perlu pertimbangan agar tidak salah langkah. Maka dari itu, perlu strategi-strategi yang harus diperhatikan sehingga dapat membawa keuntungan bagi diri sendiri juga bagi negara Indonesia.

*Mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta 

Posted by Dedi Purwana 

7 komentar untuk "Investasi di Tengah Pandemi?"

  1. Keren banget materinya, semoga bermanfaat

    BalasHapus
  2. wihh bagus sekali materinya, membuat saya ingin berinvestasi di masa pandemi

    BalasHapus
  3. Fadilah Azzahra15 Desember 2020 13.26

    Kerennn

    BalasHapus
  4. wah sangat bermanfaat materi nya

    BalasHapus
  5. Sebelumnya saya ingin berinvestasi di masa pandemi ini, tapi masih ragu karena tidak mengetahui langkah yang tepat, Setelah membaca materi ini saya menjadi termotivasi

    BalasHapus
  6. Terima kasih intan, materinya bagus sekali dan pas dengan kondisi sekarang.

    BalasHapus