Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting 1

Kesehatan Mental Pelajar Ditengah Pandemi

Kesehatan Mental Pelajar Ditengah Pandemi
Foto oleh Mary Taylor dari Pexels

Oleh: Widiastuty Cahyani*

Dunia digegerkan dengan munculnya virus corona covid-19 diawal tahun 2020 ini, tak hanya itu penyebaran virus ini berlangsung sangat cepat hanya dengan beberapa bulan saja virus ini sudah menjalar hampir keseluruh dunia salah satunya Indonesia. Hal ini membuat kepanikan terjadi di masyarakat, pemerintah dan organisasi kesehatan langsung mengambil tindakan-tindakan pencegahan agar tidak semakin banyak terjadi penyebaran. Setelah terkonfirmasinya kasus pertama kian hari angka positif corona di Indonesia semakin meningkat, dan mengharuskan untuk masyarakat melakukan pembatasan sosial, bahkan beberapa provinsi sudah menutup sarana pembelajaran dan tempat umum yang dapat menimbulkan kerumunan massa. Angka-angka positif Covid-19 kian melonjak dengan cepat dan menyebar hampir keseluruhan pulau-pulau di Indonesia, dengan ini Presiden RI pun mengambil tindakan untuk melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar.

Semua aktifitas manusia dibatasi tidak hanya tempat-tempat umum, bahkan sekolah pun harus ditiadakan untuk beberapa saat. Hal ini tentunya membuat frustasi para murid, bagaimana tidak? Bagi mereka yang berada di tahun akhir sekolah, mereka sudah mempersiapkan segala hal untuk melaksanakan ujian akhir atau ujian nasional, tetapi dikarenakan pandemi ini semua hal tersebut terpaksa di tiadakan. Tidak sampai disana, beberapa instansi sekolah tinggi pendidikan terpaksa tidak membuka pendaftaran untuk mahasiswa baru di tahun ini. Kekecawaan terus berlanjut bagi siswa dan para mahasiswa baru,  pembelajaran yang harus dilakukan dari jarak jauh, hanya mengandalkan internet dan pertemuan visual adalah suatu hal baru dan sangat membingungkan.

Hal ini terjadi begitu cepat, mungkin pada awalnya pembelajaran jarak jauh melalui gawai adalah hal baru yang menyenangkan, tetapi semakin lama hal tersebut membuat terasa seperti beban, terutama bagi mereka yang saat ini diusia pelajar dan mahasiswa baru yang masih sangat membutuhkan eksplor lingkungan sekitar, tentu akan terasa tertekan dengan adanya pembatasan wilayah ditambah lagi dengan ketakutan akan tertularnya virus Covid-19 ini. Mereka menginginkan komunikasi nyata yang biasa mereka lakukan, tetapi saat ini hal tersebut menjadi larangan bagi mereka. Apabila tekanan ini berlanjut terus menerus ditakutkan akan menjalar ke kesehatan mental untuk mereka.  Mereka tetap harus melaksanakan kewajiban mereka disekolah atau universitas sebagai pelajar tetapi disisi lain lingkungan yang tidak mendukung dapat membuat mereka kehilangan konsentrasi terus menerus. Tak hanya itu pembelajaran jarak jauh pun dianggap tidak efektif bagi mereka. Penjelasan dan materi yang disampaikan oleh dosen ataupun guru tidak mudah ditangkap oleh mereka. Tugas yang terus menerus berdatangan dan akhirnya menumpuk pun bisa menjadi beban untuk mereka, dan di sisi lain mereka harus tetap menjaga kesehatan dan imunitas tubuh mereka agar tidak mudah terjangkit virus covid-19 ini.

Berdasarkan survei yang dilalukan di Amerika Serikat oleh organisasi peduli kesehatan mental Keiser Family Foundation, mencatat bahwa hampir setengah dari orang-orang di AS merasakan krisis Covid-19 yang mana merusak kesehatan mental mereka. Mungkin kita semua memperhatikan hal-hal untuk kesehatan fisik kita, tetapi terkadang kita lupa bahwa kesehatan mental,  keadaan dimana masyarakat harus melakukan isolasi wilayah, tetapi diam dirumah dan tidak melakukan aktifitas diluar rumah tentu sangat membutuhkan adaptasi baru, wajar saja apabila masyarakat terkena Culture Shock, dikarenakan perubahan yang terjadi, walaupun culture shock adalah hal wajar saat ini, namun janganlah menjadikan kewajaran ini dipergunakan secara terus menerus, jadikanlah hal ini pembelajaran untuk membangun hal hal baru dimasa depan.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyatakan bahwa penyakit mental didunia hampir setengahnya adalah remaja yang diusia mulai dari 14 tahun dan banyak kasus yang tidak dapat ditanganin menyebabkan depresi menjadi penyebab kematian terbesar bagi anak 15-29 tahun, hal ini dikarenakan diusia tersebut manusia banyak memikirkan hal-hal yang berhubungan dengan masa depan. Terlebih, masa muda merupakan waktu di mana banyak perubahan dan penyesuain terjadi baik secara psiklogis, emosional, maupun finansial. Tidak stabilnya emosi yang dirasakan ketika usia remaja dikarenakan sedang mencari jati diri mereka sebenarnya. Apabila stres dan emosi berlarut-larut dibiarkan dan sebagian besar hal yang terjadi pada anak-anak tidak menyebabkan masalah kesehatan mental sendiri, tetapi peristiwa traumatis dapat memicu masalah bagi anak-anak dan remaja yang sudah rentan ini akan membuat remaja jatuh depresi. Perubahan sering bertindak sebagai pemicu, salah satunya adalah kondisi pandemi ini, perubahan yang dapat dirasakan sangat besar untuk para remaja terkhusus pelajar dan mahasiswa baru.

Banyak upaya yang dapat dilakukan untuk tetap menjaga kestabilan emosi dan tentunya menjaga kesehatan dan imunitas tubuh demi tidak merasa tertekan dan terhindar dari penularan virus ini. Hal-hal yang dapat dilakukan adalah:

Pertama melakukan manajemen diri, bagaimana tiap individu harus memiliki prioritas-prioritas yang harus dilakukan terlebih dahulu, dan dengan menentukan prioritas tentu segala tugas dan kewajiban akan terjadwal dengan baik dan dapat diselesaikan tanpa tekanan. Tugas-tugas yang menumpuk terkadang hanya membuat emosi tidak stabil dan bingung untuk memulai pekerjaan atau tugas dari yang mana terlebih dahulu.

Kedua mendalami hobi-hobi yang sudah disukai atau mencari hobi baru. Ditengah pandemi ini membuat masyarakat lebih banyak menghabiskan waktu dirumah, tentunya akan membosankan dan meresahkan apabila kita yang biasa memiliki kegiatan tiba-tiba diharuskan untuk diam dirumah hanya memiliki tugas dan pembelajaran daring. Banyak hal yang bisa kita lakukan seperti menonton film, mencoba merawat binatang peliharaan baru seperti ikan cupang, bisa pula dengan mencoba merawat tanaman, melakukan aktivitas fisik seperti berolahraga ataupun bisa pula mencoba memulai berbisnis online yang sedang ramai saat ini.

Ketiga menjalani komunikasi lebih dengan keluarga. Mungkin selama ini kita terlalu sibuk dengan urusan masing-masing atau terlalu sibuk berselancar dan mencari teman didunia maya membuat kita lupa kita pun membutuhkan waktu untuk sekedar mengobrol ringan dengan keluarga. Bertukar pikiran dengan anggota keluarga adalah hal baik yang dapat dilakukan, dan bagi seorang anak, mencurahkan isi hati ke orang tua atau keluarga akan lebih baik, dengan hal tersebut orangtua dapat mengetahui perasaan yang dirasakan oleh anak, apa yang sedang dirasakan dan menjadi beban oleh si anak, ketika orang tua mengetahui orang tua pun harus memahami dan membantu anak untuk terus memberi semangat dan dukungan bahkan nasihat-nasihat kepada anak tetapi tidak dalam bentuk menghakimi.

Sobat dunia kampus, kesehatan mental ditengah pandemi adalah salah satu yang harus diperhatikan selain kesehatan fisik tentunya. Mungkin kita sudah banyak.melihat video, foto ataupun bacaan perihal menjaga kesehatan fisik, tetapi kita lupa bahwa kesehatan mental pun juga sama pentingnya. Masa  pandemi yang membawa kekhawatiran masyarakat menyebabkan kecemasan yang berlebih dan bahkan tekanan bagi masyarakat dikarenakan harus melakukan physical distancing. Kecepatan penggunaan media sosial saat ini pun tidak terlalu baik bagi mentalterutama pelajar dan masyarakat urban yang setiap harinya selalu melihat sosial media, berita-berita yang ditampilkan sangat menakutkan  lebih menakutkan lagi media sosial tidak memiliki filter untuk itu. Perlu adanya konsumsi publik yang seimbang dan kreatif pula dari berbagai media, bahkan ini juga bisa dimulai dari hal sepele dari diri sendiri terlebih dahulu baik melalui aktivitas sosial secra langsung atau pun via sosial media serta kemaslahatan bersama yang perlu dijujung tinggi dengan menekan ego masing-masing serta memupuk kepedulian yang tanpa mengurangi rasa kewaspadaan dengan tetap menjaga kesehatan baik diri, lingkungan, sanak saudara maupun keluarga. Semoga artikel ini bermanfaat bagi sobat dunia kampus.

*Mahasiswa Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta

Posted by Dedi Purwana 

22 komentar untuk "Kesehatan Mental Pelajar Ditengah Pandemi"

  1. Sangat bermanfaat dan bagus artikelnyaa

    BalasHapus
  2. Terima kasih artikelnya sangat bermanfaat untuk saya yg punya mental health issue

    BalasHapus
  3. sangat bermanfaat artikelnya dan terima kasih sudah memberikan informasi tentang mental health

    BalasHapus
  4. artikelnya sangat bermanfaat untuk teman saya yang mempunyai mental health issue

    BalasHapus
  5. wah sangat menarik dan bermanfaat sekali artikelnya

    BalasHapus
  6. Pradadiva Agustia19 Desember 2020 20.06

    Sangat bermanfaat, terimakasih

    BalasHapus
  7. Balasan
    1. Terimakasih Putri Sehat dan semangat selalu! :)

      Hapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  9. terima kasih, artikelnya menarik dan sangat bermanfaat

    BalasHapus
  10. Artikelnya sangat bermanfaat, terimakasih

    BalasHapus
  11. bagusss banget sangat bermanfaat

    BalasHapus