Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting 1

Kondisi Pendidikan dan Mental Pelajar Ditengah Covid-19

Oleh: Nabila Putri Maulida*

Pandemi covid-19 merupakan virus yang pertama kali muncul dan menyerang kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini sangat cepat tertular dari 1 orang ke orang lainnya, dikarenakan manusia merupakan makhluk sosial yang memungkinkan untuk saling berkomunikasi secara langsung sehingga tingkat penyebaran ini semakin hari semakin pesat. Berdasarkan data worldometer per tanggal 02 Desember 2020, penderita positif virus Corona di dunia sudah mencapai 64,395,990 juta dengan jumlah yang meninggal 1,490,821 juta dan yang sembuh sebanyak 44,657,310 juta orang. Berdasarkan data pasien yang positif, angka penderita yang sembuh mulai membaik karena sudah bisa menyentuh angka setengahnya dari pasien yang positif.

Kondisi Pendidikan dan Mental Pelajar Ditengah Covid-19
Foto oleh Polina Zimmerman dari Pexels

Dampak dari adanya wabah ini tidak hanya dari 1 aspek saja, tetapi berdampak di berbagai segi kehidupan, baik itu aspek ekonomi yang sudah mengalami resesi, sosial yang membuat kita menjadi susah untuk berkomunikasi secara langsung dikarenakan adanya protokol kesehatan yaitu sosial distancing,  kesehatan, pariwisata, kebudayaan, dan juga pendidikan. Tidak hanya dari sektor perekonomian saja yang mengalami penurunan dan terlihat penurunannya di berita, tetapi pendidikan pun juga ikut terkena dampaknya. Banyak anak sekolah dari berbagai tingkatan mulai dari Paud, TK, SD, SMP, SMA sampai Perguruan Tinggi pun disemua wilayah mengalami pemberhentian untuk melakukan pembelajaran yang seharusnya disekolah maka digantikan menggunakan sistem/pembelajaran jarak jauh melalui internet atau daring dengan media aplikasi online seperti Zoom meeting, Google Class Room, Google Meet, Microsoft Teams, dan aplikasi lainnya.

Alternatif yang diberikan oleh pemerintah ini adalah satu-satunya jalan supaya KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) tetap berjalan dan menghindari interaksi secara langsung antara guru dengan murid, dosen dengan mahasiswa demi menjaga diri supaya tidak terkena virus corona. Banyak dirasakan oleh para guru dan juga dosen, untuk pembelajaran jarak jauh ini rasanya sangat kurang efektif terlebih para guru dan dosen yang sudah berumur, yang biasanya mereka hanya bangun pagi untuk berangkat sekolah dan langsung mengajari para murid-muridnya, tetapi sekarang mereka diharuskan belajar menggunakan aplikasi online untuk tetap bisa memenuhi kebutuhan para muridnya belajar dari rumah. Pembelajaran jarak jauh ini membuat semua kalangan pelajar dan mahasiswa mau tidak mau harus melaksanakan layaknya seperti disekolah yang mana mengharuskan siswa atau mahasiswa bangun pagi dan membuka laptop atau komputer untuk bertatap muka dengan guru dan dosen menggunakan berbagai media platform untuk belajar seperti biasa. 

Namun, adanya KBM yang dilaksanakan di rumah, sedikit demi sedikit kualitas dunia pendidikan akan menurun. Banyak para pelajar dan mahasiswa merasa kesulitan dengan teknis pembelajaran yang mengharuskan menggunakan media elektronik online ini, karena para pelajar harus menyiapkan kuota secara pribadi untuk menunjang kegiatan pembelajaran secara daring, pelajar juga harus mempunyai laptop atau komputer untuk memudahkan proses pembalajaran, dan pelajar ini dituntut untuk bisa mengerti secara mandiri tentang materi yang sedang dipelajari. Terlebih karena proses KBM ini dilakukan dirumah, tidak semua guru dan dosen menjelaskan materi seperti layaknya di keadaan normal, sesuai fakta yang saya temui dan dengar, banyak para belajar yang hanya absen jika ia hadir tanpa mengikuti proses pembelajaran atau hanya join lewat zoom tanpa adanya on camera untuk bisa dosen dan guru ini bertatap muka dengan para muridnya, dengan ini rasanya sulit untuk semua pelajar bisa menguasai materi, walaupun tidak menutup kemungkinan sebagian anak yang memperhatikan pembelajaran dengan baik.

Tantangan untuk para pelajar ini sangatlah berat untuk melawan rasa malas, yang biasa kita bangun pagi mandi dan bergegas pergi ke sekolahan atau kampus, tetapi nyatanya dengan adanya pandemi yang belum berakhir, kita bangun tidur langsung dihadapkan dengan laptop. Terlebih kondisi fisik dan mental di semua kalangan anak pasti akan juga kena imbasnya, karena tidak sedikit guru dan dosen yang hanya memberikan tugas kepada muridnya yang sangat banyak dengan disusulnya dateline singkat dari pemberian tugas sampai jarak pengumpulan. Menurut saya dengan adanya tugas yang begitu banyak kondisi seorang pelajar ini menjadi menurun dan anak menjadi jenuh dengan keadaan seperti ini, kondisi fisik dan mental anak akan menjadi terganggu, terlebih para pelajar ini jadi harus mengerjakan tugas sampai larut malam supaya tugasnya pun bisa selesai, waktu main dengan teman sedikit, kurangnya bersosialisasi dengan orang banyak, kurangnya istirahat, waktu jam tidur yang jadi tidak normal, karena saya tidak sedikit saya menemukan banyaknya keluhan dari teman pribadi dan juga berita yang mengeluh akan keadaan seperti ini, sebagai contoh ada anak yang ingin bunuh diri karena merasa tertekan dengan situasi seperti ini. Melihat dengan banyaknya keluhan dan pemberitaan diluar sana yang sudah banyak, hanya peran keluargalah yang diharapkan untuk bisa mengembalikan semangat anak.

Strategi yang bisa diambil untuk mempernyaman siswa dan mahasiwa di rumah pada saat belajar daring yaitu:

Pertama, Pemerintah memberikan subsidi berupa paket internet setiap bulan sampai kita bisa menjalankan KBM di sekolah dan kampus, berapapun kuota yang diberikan, kita semua mengharapkan kuota tersebut bisa membantu mencukupi para siswa dan mahasiswa mengakses materi dan ikut proses pembelajaran secara online.

Kedua, Bagi para guru dan dosen diharapkan untuk tidak selalu memberikan tugas saja pada saat pertemuan, buatlah para siswa dan mahasiswa ini merasa nyaman dengan adanya kelas online ini, berikan penjelasan pada saat pemaparan materi, supaya kami para siswa dan mahasiswa pun bisa menanyakan materi yang tidak kita pahami, ataupun bisa melakukan pertemuan yang membuat para siswa dan mahasiswa ini menjadi tidak hanya sekerdar absen tetapi mengikuti pembelajaran hingga selesai.

Ketiga, Buatlah hiburan disetiap pertemuan dengan cara memberikan games di sela materi yang diberikan, dengan dibuatnya games anak yang tadinya merasa bosan menjadi kembali semangat ketika adanya pembelajaran pada hari tersebut.

Keempat, Berikan tugas dan jenjang waktu pengumpulan yang setara. Pembelajaran online ini membuat banyak siswa dan mahasiswa mengeluh dengan jenjang waktu pengumpulan yang begitu singkat dan tidak sebanding dengan kesulitan yang diberikan oleh guru dan dosen.

Kelima, Berikan murid tugas yang membuat ia merasa senang seperti adanya penayangan film terlebih dahulu, dan diiringi dengan soal yang berkaitan dengan film tersebut.

Keenam, Berikan alternatif pembelajaran dari media elektronik lain, misalnya sekarang Kemendikbud telah memerikan program berupa tayangan di salah satu stasiun TV. Program ini dibuat unuk membantu di sejumlah daerah yang tidak dapat mengakses internet dengan lancar dan minimnya bantuan  berupa subsidi kuota internet atau pulsa. Program belajar dari rumah ini ada pembahasan mulai dari materi, talkshow, podcase dan film indonesia dari berbagai macam gendre yang disediakan. Menurut saya program yang dibuat oleh Kemendikbud ini salah satu yang bisa menarik perhatian oleh para siswa untuk  belajar sambil menonton supaya mereka tidak merasa terbebani dengan banyaknya materi yang diberikan oleh para guru.

Dengan  demikian, adanya Covid-19 ini banyak aktivitas yang terhambat. Memperbaiki mutu pendidikan dan kondisi fisik mental anak di Indonesia adalah satu-satunya harapan dari seluruh masyarakat supaya bisa mendapatkan manfaat yang sama seperti layaknya kegiatan pembelajaran di keadaan normal. Pendidikan  yang ikut terkena dampaknya diharapkan semua siswa dan mahasiswa bisa menerima untuk belajar dari rumah saja sambil menunggu keputusan oleh Menteri Pendidikan untuk dimulainya kembali KBM secara offline. Namun pemaparan strategi yang diberikan, besar harapan saya bisa terlaksana, dan semoga pandemi Covid-19 segera hilang.

*Mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta.

Posted by Dedi Purwana

10 komentar untuk "Kondisi Pendidikan dan Mental Pelajar Ditengah Covid-19"