Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Membuat Judul “Menggelitik” Artikel Opini

Oleh: Dedi Purwana & Agus Wibowo

Pada artikel sebelumnya, sobat dunia kampus ditantang untuk menjawab pertanyaan apakah menulis artikel opini itu mudah? Mudah bagi penulis kawakan, sulit untuk penulis pemula. Namun demikian, penulis pemula tidak perlu cemas. Kunci utamanya adalah kemauan dan kesiapan untuk belajar. Toh, artikel opini sejatinya menyampaikan pandangan kita terkait suatu masalah dalam bentuk tulisan. Kondisi sulitnya adalah tidak semua orang mampu menuangkan apa yang dipikirkan menjadi tulisan. Ini tentu lumrah! Menjadi tidak seru kalau semua orang di dunia ini berprofesi sebagai penulis, tidak akan ada pembacanya. 

Membuat Judul “Menggelitik” Artikel Opini
https://www.pexels.com/id-id/foto/bayangan-gambar-ikon-imajinasi-256514/

Sederhananya, tulisan opini terdiri dari 3 (tiga) babak. Babak pertama tentu menjelaskan APA isu atau masalah yang akan dibahas. Paparan fakta terkait isu yang dibahas menjadi krusial pada bagian ini. Dilanjutkan babak berikutnya, menguraikan MENGAPA isu atau masalah itu menjadi menarik. Analisis tajam diperlukan pada bagian ini. Selanjutnya, babak ketiga berupa BAGAIMANA mengatasi masalah. Ingatlah, opini sejatinya memberikan solusi atas permasalahan yang dibahas, bukan sekedar pemaparan masalah tanpa ada solusi yang diberikan.

Ketiga babak tersebut menjadi tidak menarik atau tidak dilirik pembaca opini manakala judul tidak “menggelitik”. Judul itu ibarat kunci pembuka, sekaligus menjadi penghias tulisan agar menarik. Karena fungsinya sebagai penarik, maka judul juga ibarat magnet atau daya tarik bagi tulisan kita. Oleh karena itu, judul harus dibuat semenarik mungkin, sehingga tulisan kita dilirik, dan selanjutnya dibaca orang. Penulis pemula maupun yang sudah senior sekalipun, sering kesulitan membuat judul—tentunya judul yang menarik.

Judul yang disajikan hanya terkesan biasa saja, tentu tidak akan menggundang minat pembaca. Namun perlu diingat, judul juga harus mencerminkan isi tulisan kita. Jangan sampai hanya agar menarik, judul dibuat bombastis, tetapi jauh dari isi tulisan kita. Pembaca akan merasa dibohongi. Sudah dapat pastikan, pembaca yang kecewa, mereka tidak akan tertarik untuk membaca opini-opini yang kita tulis selanjutnya.

Judul selain menarik, juga harus mewakili tulisan kita. Ada beberapa tips untuk membuat judul yang “nendang” atau sangat menarik namun tidak keluar dari substansi tulisan kita.

Pertama, judul mewakili tulisan. Judul yang baik hendaknya mewakili substansi dari tulisan artikel kita. Oleh karena itu, usahakan memahami benar  artikel yang kita tulis, sebelum membuat judul. Ada dua cara dalam membuat judul. Cara pertama ini biasanya sering penulis lakukan. Berdasarkan pengalaman, penulis biasanya membuat judul terlebih dahulu, baru menyusun paragraf-paragraf pendukung dan penjelas. Dengan cara ini, penulis juga sering membuat judul sekaligus sebagai pokok pikiran atau gagasan utama. Cara ini di satu sisi memang menghemat waktu dan pikiran, jika dibandingkan dengan membuat judul terakhir. Hanya saja, kita menjadi tidak memiliki kebebasan, bahkan terbebani dengan judul yang sudah dibuat. Cara kedua, membuat artikel hingga selesai baru menulis judul. Cara ini banyak dilakukan oleh penulis junior maupun senior. Dengan cara ini kita tidak terikat atau terbebani oleh judul yang sudah dibuat. Kita bisa membuat uraian-uraian secara bebas hingga selesai, baru membuat judul. Kelemahan cara ini, waktu kita tersita karena harus memahami substansi artikel terlebih dahulu baru membuat judul.

Kedua, judul hendaknya persuasif dan provokatif. Selain mewakili substansi artikel, judul yang baik sifatnya persuasif dan provokatif. Artinya, selain berisi ajakan juga berusaha mempengaruhi pembaca. Sebagus apapun substansi artikel kita, tetapi judulnya kurang persuasif dan provokatif, maka kecil kemungkinan orang tertarik membaca. Artikel di media massa, selain mencerahkan, juga berfungsi untuk mempengaruhi pembaca sesuai dengan pikiran penulisnya. Ajakan ini tentu saja ke arah yang positif, bukan sebaliknya. Setelah membaca artikel yang dituangkan penulis, diharapkan pembaca menjadi terpengaruh dan mengikuti—paling tidak mengapresiasi. Berdasarkan penelisikan penulis, hampir separuh dari judul-judul artikel di media massa berisi ajakan bahkan provokasi.

Ketiga, judul mudah diingat. Judul artikel yang baik itu mudah diingat pembaca. Artinya, ketika pembaca dihadapkan dengan fenomena tertentu, pembaca langsung teringat judul artikel yang kita tulis. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, judul tidak hanya berguna untuk menangkap perhatian pembaca, tapi juga menyebarluaskan berita tentang karya Anda. Kata-kata yang terlalu sulit tidak akan menarik bagi penjaga rubrik (jabrik), editor, agen buku; dan para pembaca tidak akan mampu mengingat atau menjual judul ini kepada orang lain. Anda ingin muncul dengan sesuatu yang menyenangkan, menempel di kepala dan mudah diingat.

Agar mudah dingat, tentu saja judul artikel yang kita buat hendaknya tidak terlalu panjang atau terlalu pendek. Untuk mengkoreksi judul kita mudah diingat atau tidak lakukan langkah berikut. Baca keras-keras judul Anda. Apakah susah dilafalkan? Menarik? Membosankan? Apakah Anda akan mengecek buku dengan judul tersebut? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini dapat membantu Anda merevisi judul Anda.

Keempat, judul tidak terlalu pendek dan tidak terlalu panjang. Judul artikel yang baik itu hendaknya tidak terlalu pendek dan juga tidak terlalu panjang. Judul yang terlalu panjang misalnya di dalamnya terdapat lebih dari tiga kata depan; dengan, di, terhadap, pada, oleh dan sebagainya. Selanjutnya judul yang terlalu pendek apabila tidak bisa mewakili substansi dari artikel kita. Banyak penulis senior yang merekomendasikan membuat judul itu tidak lebih dari 65 karakter, bahkan lebih bagus lagi hanya terdiri 6 kata. Hal ini berdasarkan kebiasaan orang, di mana mereka hanya akan membaca 3 kata pertama saja. Selain tidak terlalu panjang dan pendek, judul yang mengandung pertanyaan, biasanya akan menarik pembaca. Misalnya, opini berjudul ”Quo vadis Pendidikan Bangsa?” atau “Membuat Artikel Opini itu Mudah?”

Berbeda bila kita membuat judul artikel hasil penelitian. Judul tersebut hendaknya berimplikasi pada deskripsi problem, teori, metodologi, dan rekomendasi. Artinya, kita harus dapat merumuskan problem yang bersifat akademik dan yang bersifat praktis melalui judul itu. Kita juga perlu mencocokkan judul itu dengan teori yang ada. Jika kita tidak menemukan teorinya, maka kita akan kesulitan memberikan argumentasi kita terhadap judul kita sendiri itu. Secara metodologis, judul itu harus dapat diteliti dengan cara yang telah lazim di dunia ilmiah.

Kelima, sesuaikan judul dengan kaidah bahasa dan keserasian tata letak. Dalam Bahasa Indonesia lazimnya judul ditulis dengan huruf besar di setiap katanya, kecuali kata depan atau kata sambung. Lalu, untuk istilah yang berasal dari bahasa lain perlu dicetak miring (italic). Untuk pertimbangan keserasian tata letak, judul berada di tengah margin kiri dan kanan dari kertas. Ukuran huruf dari judul perlu dibuat lebih besar daripada ukuran huruf isi keseluruhan tulisan.

Pada akhirnya, kita dapat menyimpulkan bahwa judul opini itu ibarat iklan promosi. Konsumen akan terpengaruhi membeli produk setelah menyukai iklan produk tersebut. Pembaca akan tertarik dengan isi tulisan, ketika mereka terkesan dengan judul yang kita buat. Semoga secuil pengalaman menulis opini ini memotivasi penulis pemula berani membuat artikel opini. Silakan baca buku Lincah Menulis Artikel Ilmiah Populer & Jurnal (Teori & Praktik) bila ingin mengasah kemampuan menulis artikel OPINI [] 

2 komentar untuk "Membuat Judul “Menggelitik” Artikel Opini"