Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Nasib Pelaku UMKM di Tengah Pandemi Covid-19

 

Nasib Pelaku UMKM di Tengah Pandemi Covid-19
Foto oleh Kenneth Carpina dari Pexels

Oleh: Fiqih Adillah*

Sobat dunia kampus pasti tahu bahwa pandemi Covid-19 mulai merebak di Indonesia pada Maret 2020. Virus ini kali pertama merebak di daerah Depok. Terdengar kabar bahwa yang pertama kali terkena virus Covid-19 merupakan ibu dan anak yang telah melakukan kontak sosial dengan warga negara Jepang. Sontak saja masyarakat geger mendengar kabar berita bahwa Covid-19 sudah mulai merebak di negara kita. Virus Covid-19 merupakan virus yang awal mulanya berasal dari kota Wuhan China yang ditengarai berasal dari hewan kelelawar.

Sebelum Covid-19 merebak di Indonesia pemerintah sudah menyiapkan langkah-langkah mitigasi yang harus dipersiapkan jika pandemi Covid-19 menyebar ke negara Indonesia. Salah satu contoh langkah mitigasi yang dipersiapkan oleh pemerintah Indonesia,yaitu menyosialisasikan tentang apa itu Covid-19. Covid-19 merupakan virus yang bisa tertular melalui udara maupun kontak fisik. Pemerintah sudah mewanti-wanti kepada seluruh warga negara Indonesia untuk menjaga kondisi fisiknya dengan cara meminum vitamin serta buah-buahan yang kaya akan protein.

24 April 2020 pemerintah menerapkan kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Terdapat pandangan pro dan kontra antara pemerintah dan masyarakat mengenai kebijakan tersebut, karena jika pemerintah memberlakukan kebijakan tersebut otomatis aktivitas masyarakat tentunya akan dibatasi. Merebaknya virus Covid-19 sangat mempengaruhi sektor-sektor yang ada di Indonesia terutama sektor ekonomi, ditambah lagi diterapkannya kebijakan PSBB yang mengurangi kegiatan masyarakat di luar rumah. Lantas bagaimana nasib pelaku UMKM di saat terjadi pandemi Covid-19 ini?

UMKM merupakan usaha mikro kecil yang dilakukan oleh perorangan maupun badan usaha yang mengacu kepada ekonomi produktif dan kreatif. UMKM sendiri di era revolusi industri 4.0 berkontribusi sekitar 60% terhadap pendapatan nasional. Tidak hanya golongan tua yang bisa mendirikan UMKM justru anak muda kini sudah berani untuk membangun usaha kecil-kecilan dengan bermodalkan pikiran yang kreatif,niat, dan kemauan yang terdapat di dalam diri sendiri. Di era modern sekarang kebanyakan para pelaku UMKM adalah golongan milenial yang masih kuliah dan masih duduk di bangku sekolah SMA. Mereka lebih memilih menghabiskan waktunya untuk melakukan hal-hal yang produktif dan tentunya akan menghasilkan uang dan bisa sembari belajar ketimbang main yang hanya membuang-buang uang mereka. Salah satu contoh kegiatan yang produktif.yaitu berjualan. Dari berjualan tersebut mereka akan mendapatkan keuntungan dan dari keutungan tersebut akan mereka tabung untuk membeli kebutuhan yang sedang dibutuhkan.

Di saat pandemi Covid-19 keberadaan UMKM sangat memprihantikan. Banyak sekali pelaku UMKM yang kini mengeluh karena pendapatannya yang makin hari makin menurun. Di masa pandemi kegiatan aktivitas masyarakat di luar menurun, karena takut akan terjangkit virus Covid-19. Pelaku UMKM harus siap dan cepat beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi pada saat Covid-19 menerjang bisnis mereka. Mereka harus mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan dan harus tepat memanajemen bisnis mereka untuk bisa bertahan di masa pandemi Covid-19 ini, seperti mengubah strategi pemasaran yang dulunya offline beranjak ke online. Banyak platform-platform online yang menyediakan untuk berjualan online, seperti Shopee, Tokopedia, Bukalapak, dan lain-lain. Para pelaku UMKM bisa memanfaatkan platform tersebut untuk memasarkan produknya,karena di keadaan seperti ini tentunya kegiatan aktivitas di luar dibatasi sehingga para konsumen lebih memilih untuk berbelanja online. Dengan adanya platform merupakan kesempatan untuk UMKM untuk beralih ke bisnis digital. Bisnis digital mungkin salah satu cara untuk bisa bertahan dari Covid-19, selain memudahkan para konsumen untuk berbelanja, kita sebagai pelaku UMKM juga bisa menghemat pengeluaran yang tadinya untuk biaya membuka toko offline sekarang hanya dengan ponsel genggam yang ada internetnya kita bisa memasarkan produk kita ke platform yang tersedia yang hanya membutuhkan kuota internet.

Pelaku UMKM harus menerapkan manajemen evaluasi usaha yang sangat berguna untuk mengetahui keadaan bisnisnya. Terdapat channel YouTube yang di dalamnya terdapat satu video yang membahas mengenai manajemen evaluasi usaha, yaitu channel YouTube Dedi Purwana. Channel.Video tersebut menampilkan pihak pewawancara dengan salah satu pelaku UMKM,yaitu pelaku UMKM Soto Medan. Pelaku UMKM tersebut menyebutkan alasan mereka bisa bertahan di masa pandemi dan tidak mem-PHK para karyawannya karena memiliki ide yang kreatif serta inovatif untuk mengatur bisnisnya. Pelaku UMKM tersebut memilih untuk mempromosikan dagangannya melalui social media salah satunya Instagram,Kenapa Instagram? karena Instagram sering dikunjungi oleh kalangan muda maupun tua dan mudah untuk menarik pelanggannya. Dan yang lebih menarik lagi pelaku UMKM tersebut mempromosikan sotonya melalui platform TikTok di mana platform tersebut merupakan kumpulan-kumpulan video.Kreatif dan inovatif. Dua hal tersebutlah yang membuat para pelaku UMKM bisa bertahan di masa pandemi Covid-19 ini.

Lalu apakah hanya dengan manajemen evaluasi untuk bisa bertahan di massa pandemi Covid-19 ini? Terdapat beberapa cara untuk bertahan di saat pandemic Covid-19 ini:

Pertama, pelaku UMKM harus memasarkan produknya dengan memasukkan ke sistem transportasi online yang tentu di dalamnya ada layanan pesan makanan untuk para konsumen,seperti GoFood,GrabFood.

Kedua, pelaku UMKM harus menturutsertakan karyawannya untuk ikut menyumbang ide-ide agar keselerasan terjadi antara karyawan dan bos.

Ketiga, beralih ke digital. Pelaku UMKM harus melek terhadap perkembangan teknologi saat ini, karena itu merupakan peluang dan cara untuk bertahan di massa Covid-19.

Cara-cara tersebut akan turut membantu para pelaku UMKM untuk bisa bertahan di masa pandemi Covid-19 ini. Menjalankan usaha di saat pandemi memanglah bukan hal yang mudah melainkan hal yang sulit,tetapi jadikanlah itu sebuah tantangan bagi para pelaku UMKM untuk tetap bisa mengembangkan bisnisnya dengan cara mencoba mengulik hal-hal yang sebelumnya belum pernah dicoba saatnya untuk mencoba.

UMKM yang mencoba beralih ke internet setidaknya mampu bertahan dari tekanan krisis. Sebab, bagaimanapun juga pandemi Covid-19 telah mampu menggeser perilaku masyarakat dalam aktivitas belanja yang dulunya dominan menggunakan offline beralih ke dalam sistem online. Perubahan pola itulah sejatinya peluang emas bagi UMKM agar dapat bertahan di tengah pandemi.

Nasib pelaku UMKM sangat ditentukan oleh pengembangan gagasan ide yang kreatif serta inovatif yang tentunya bisa menarik perhatian pelanggan untuk menjajakan produknya. Nasib UMKM di masa pandemi Covid-19 relatif lebih memilih untuk tutup karena takut akan risiko yang dihadapi. Akan tetapi, sebagian pelaku UMKM lebih memilih untuk bertahan dan melakukan inovasi-inovasi terhadap bisnisnya.

Bisnis digital merupakan hal yang menuntut para pelaku UMKM untuk beralih ke online. Banyak sekali manfaat-manfaat yang didapatkan dari bisnis digital tersebut, mulai dari efisiensi waktu, memudahkan para konsumen untuk berbelanja tanpa harus ke luar rumah,dan menghemat pengeluaran pelaku UMKM.

Memulai berpikir kreatif dan inovatif bukanlah hal yang mudah,melainkan ada kalanya pelaku UMKM merasakan kegagalan yang dialaminya. Dengan kegagalan tersebut pelaku UMKM bisa mengetahui letak kurang-kurangnya dan bisa mengambil pelajaran dari hal tersebut. Ada pepatah mengatakan” Sebaik-baiknya guru adalah pengalaman masa lalu, sebaik-baiknya murid adalah yang mau belajar dari pengalaman masa lalu.” Bisa ditarik kesimpulan dari pepatah tersebut bahwa dalam hal kegagalan merupakan hal biasa di dalam hidup, mencoba, mencoba, dan terus mencoba untuk memulai ber-bisnis digital. Jangan takut terhadap risiko yang ada .Pelaku UMKM bisa bertahan di massa pandemi karena ada kemauan untuk mulai beralih ke sistem online. Semoga artikel ini bermanfaat bagi sobat dunia kampus.

*Mahasiswa Program Studi Akuntansi (D3) Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta.

Posted by Dedi Purwana 

16 komentar untuk "Nasib Pelaku UMKM di Tengah Pandemi Covid-19"