Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pembelajaran Jarak Jauh, Tantangan atau Hambatan Pendidikan?

Pembelajaran Jarak Jauh, Tantangan atau Hambatan Pendidikan?
Foto oleh Julia M Cameron dari Pexels

Oleh: Chintya Adinda Putri*

Sejak awal tahun 2020 Indonesia sudah dihebohkan dengan kehadiran virus yang berasal dari China yang menyebabkan banyak pelajar di rumahkan dan mengharuskan kegiatan pembelajaran jarak jauh. Hal itu menyebabkan pendidikan di Indonesia sedang banyak mengalami perubahan yang cukup signifikan di berbagai bidangnya. Hal tersebut, terlihat dari pemakaian teknologi secara komprehensif, juga sistem belajar yang telah banyak bertransisi ke dunia online. Artinya, pendidikan bersifat dinamis, serta tak dapat di pungkiri bahwa, dunia pendidikan saat ini akan lebih fleksibel dan mudah, sehingga dapat meningkatkan mutu intelektual anak siswa siswi bahkan masyarakat umum.

Pandemi Covid-19 telah memberikan gambaran atas kelangsungan dunia pendidikan di masa depan melalui bantuan teknologi. Namun, teknologi tetap tidak dapat menggantikan peran guru, dosen, dan interaksi belajar antara pelajar dan pengajar sebab edukasi bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan tetapi juga tentang nilai, kerja sama, serta kompetensi. Situasi pandemi ini menjadi tantangan tersendiri bagi kreativitas setiap individu dalam menggunakan teknologi untuk mengembangkan dunia pendidikan. Pendidikan di Indonesia saat ini lebih diarahkan pada pola pendidikan yang lebih modern, di mana anak siswa siswi tidak perlu lagi belajar di ruangan, mereka bisa belajar di mana saja mereka mau, si anak siswa siswi tidak perlu lagi membawa buku-buku yang memberatkan mereka, cukup membawa smartphone mereka karna buku sudah dalam bentuk e-book. Anak-anak pelajar ini akan sangat dimanjakan oleh teknologi, khususnya dalam bidang Pendidikan. Maka, suka atau tidak suka, pemerintah dan aparaturnya harus mendukung hal tersebut. Selain pemerintahan, sekolah-sekolah yang masih bertahan juga harus mendukung hal tersebut.

Namun, ketika kita melihat ke sisi yang lain, sungguh begitu bertolak belakang, yaitu jika melihat lebih mendalam akan kondisi keseluruhan pendidikan yang ada di nusantara ini, banyak ketidakmerataan dan jauh dari kesan maju (dalam hal pendidikan). Hal tersebut, terlihat dari sekolah yang jauh dari kelayakan, kondisi sekolah, dan sebagainya. Padahal, di dalamnya terdapat anak-anak yang begitu bersemangat untuk belajar dan menuntut ilmu, namun karena keterbelakangan akses dan juga berbagai kekurangan lainnya, membuat mereka sulit dalam mencapai tujuan dan cita-citanya. Alhasil, mereka akan jauh tertinggal dibanding anak-anak yang mengenyam pendidikan di kota yang umumnya sistem pendidikan lebih mumpuni. Maka dari itu, terkait persoalan mutu pendidikan di Indonesia diantaranya adalah keterbatasan akses pada pendidikan, jumlah guru yang belum merata, serta kualitas guru itu sendiri dinilai masih kurang. Terbatasnya akses pendidikan di Indonesia, terlebih lagi di daerah berujung kepada meningkatnya arus urbanisasi untuk mendapatkan akses ilmu yang lebih baik di perkotaan.

Dalam pembelajaran secara online ini ditemui banyak kendala atau masalah. Nah berikut ini merupakan beberapa kendala atau masalah yang terjadi di Indonesia ketika mengimplementasikan pendidikan daring di masa pandemi.

Pertama, sarana pendidikan yang belum siap. Permasalahan pendidikan pertama yang terjadi di Indonesia selama masa pandemi adalah sarana pendidikan yang belum siap. Mungkin anak-anak di perkotaan masih bisa menjalankan pendidikan secara daring atau online tanpa hambatan. Tidak hanya soal jaringan internet, tapi untuk melakukan pembelajaran online ini juga dibutuhkan sarana perangkat berupa laptop atau smartphone. Nah dari sinilah muncul juga permasalahan karena tidak semua anak di Indonesia, terutama di daerah yang memiliki perangkat ini. Permasalahan lain yang muncul dari metode pembelajaran online ini adalah masalah kuota. Pembelajaran daring ini memang membutuhkan kuota yang harus dibeli dengan sejumlah rupiah. Dari sinilah kemudian banyak orangtua dari kalangan menengah ke bawah yang kesulitan untuk membeli kuota.

Kedua, materi yang tidak dipahami dan tugas yang terlalu banyak. Dalam proses pembelajaran daring sendiri muncul juga permasalahan cukup serius. Pembelajaran online yang tidak membuat anak-anak bertemu langsung di kelas memang membuat penjelasan guru menjadi kurang maksimal. Hasilnya tidak sedikit siswa yang tidak bisa memahami materi yang disampaikan. Mungkin bagi siswa yang punya guru privat bisa saja memperdalam materinya hingga kemudian mampu memahaminya. Tapi kenyataannya tidak semua siswa di Indonesia memiliki guru privat. Belum lagi bila membicarakan soal anak-anak berkebutuhan khusus atau disabilitas, maka pembelajaran online ini akan semakin menambah permasalahan yang ada.

Ketiga, keseriusan anak dalam belajar. Permasalahan yang bisa dijumpai pada pembelajaran online di Indonesia selama masa pandemi yaitu mental dan keseriusan anak dalam belajar. Dalam pembelajaran daring ini memang banyak anak yang menyepelekan. Alih-alih serius dalam belajar, mereka banyak yang menganggap belajar online ini sebagai kegiatan mengisi waktu saat liburan. Ditambah lagi dengan kondisi di mana banyak guru yang banyak memberikan tugas, menjadikan anak semakin kurang serius dalam belajar. Mereka menganggap bahwa belajar online ini hanya berisi kegiatan mengerjakan tugas.

Keempat, kurangnya kuota belajar. Masih banyak anak yang belum mendapatkan kuota pelajar dari pemerintah yang menyebabkan sulitnya untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Ditambah lagi dengan kondisi dimana terkadang sinyal sulit untuk didapat. Mungkin untuk anak yang tinggal di daerah perkotaan permasalahan tersebut tidak terlalu menyulitkan. Tapi hal ini tidak berlaku di daerah atau pedesaan yang memang tidak memiliki jaringan internet sebagus di kota.

Kemudian dalam hal ini, pemerintah juga kurang aktif dalam menyelesaikan masalah Pendidikan, sehingga masalah ini menjadi masalah yang cukup besar karena sampai sekarang belum ada penyelesaian problematika pendidikan yang efektif, tanpa adanya peran pemerintah dalam masalah pendidikan di pelosok, maka masalah ini tidak akan akan selesai jika pemerintah masih pasif dalam menyelesaikan masalah tersebut.

Solusi yang dapat saya berikan mungkin yang paling pertama yang harus dibenahi pada sisi pemerintah yakni seharusnya pemerintah lebih peduli terhadap masalah pendidikan yang ada di Indonesia dan menangani dengan serius masalah pendidikan dipelosok – pelosok negeri Indonesia, serta pemberian alokasi dana untuk pendidikan pada daerah yang lebih merata karena dengan adanya alokasi dana bisa membuat keadaan pendidikan menjadi lebih baik lagi, dari segi sisi orangtua seharusnya pada usia wajib sekolah seharusnya diizinkan untuk sekolah bukan untuk membantu orang tua mencari uang.

Mungkin boleh membantu mencari uang tetapi dalam catatan tidak mengganggu aktivitas anaknya dalam sekolah. Bukan hanya pemerintah saja, kita juga bisa membantu untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia dengan cara menyumbang baik dalam hal materi contohnya kita dapat menyumbang uang, dan alat tulis maupun non materil, serta memberi penyuluhan betapa pentingnya pendidikan untuk membangun semangat anak- anak yang di pelosok untuk tetap terus bersekolah.

Saya berharap agar pendidikan di Indonesia terutama yang terdapat di pelosok –pelosok menjadi lebih berkembang sehingga pendidikan menjadi bisa balance dengan yang ada di perkotaan, dengan itu semakin banyaknya sumber daya manusia yang berpendidikan. Sehingga, Indonesia tidak harus lagi menggunakan tenaga asing, tetapi menggunakan tenaga ahli dari Nusantara sendiri. Dengan demikian, Indonesia akan jauh lebih maju dan berkembang dari segi intelektual nya. Semoga artikel ini bermanfaat bagi sobat dunia kampus.

*Mahasiswa Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta

Posted by Dedi Purwana

14 komentar untuk "Pembelajaran Jarak Jauh, Tantangan atau Hambatan Pendidikan?"

  1. artikelnya menarik dan bermanfaat

    BalasHapus
  2. sangat bagus skali ,bahasa n penyampaian mudah di mengerti,semoga bermanfaat.semangat trus cantik papa��

    BalasHapus
  3. artikelnya menarik sekali 👍

    BalasHapus
  4. Bermanfaat, mudah dipahami. Semangat terus kk chyntia💪💪

    BalasHapus
  5. artikel ini sangat bermanfaat untuk orang banyak, bahasanya juga mudah dimengerti, semangat kaka chintya ❤️❤️❤️

    BalasHapus
  6. artikel yang menarik dan bermanfaat

    BalasHapus
  7. artikelnya menarik dan sangat bermanfaat

    BalasHapus
  8. Setuju ... Pemerataan pendidikan di tanah air

    BalasHapus
  9. Artikelnya sangat menarik, terimakasih

    BalasHapus