Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perlukah Kesetaraan Gender dalam Dunia Bisnis?

Oleh: Gloria Fortuna Joya*

Sobat dunia kampus, gender merupakan perbedaan antara laki – laki dan perempuan yang tidak bersifat kodrati. Perbedaan yang bukan kodrati itu misalnya perbedaan peran, tanggung jawab, fungsi dan bahkan ruang tempat dimana manusia beraktivitas. Sedemikian rupanya perbedaan gender ini melekat pada cara pandang manusia, sehingga seakan akan hal itu merupakan sesuatu yang permanen dan abadi. Kesetaraan gender merupakan suatu kondisi di mana semua orang harus mendapat perlakuan yang sama dan tidak adanya diskriminasi terhadap identitas gender mereka. 

Perlukah Kesetaraan Gender dalam Dunia Bisnis?
Foto oleh RODNAE Productions dari Pexels

Kesetaraan gender sangat penting bagi kinerja perusahaan. Namun, ironinya kesetaraan gender di berbagai perusahaan belum merata. Nyatanya, kesetaraan gender memiliki dampak positif di kancah per bisnisan. Padahal, keuntungan dari kesetaraan gender ini sendiri dapat meningkatkan kinerja bisnis tersebut menjadi lebih baik. Dikarenakan peran serta merta antara laki-laki dan perempuan yang berbeda. Sehingga, dapat menimbulkan dampak positif secara luas. Oleh karena itu, berbagai inisiatif dilakukan untuk mendorong perusahaan menciptakan lingkungan kerja yang nyaman bagi karyawan yang memiliki multi peran, serta mendukung perubahan untuk tercapainya kesetaraan gender di dunia kerja. Maka dari itu, diperlukan peran bersama untuk mendorong partisipasi perempuan dalam pembangunan ekonomi dengan memacu produktivitas, menghadirkan pasar tenaga kerja yang adil dan kompetitif serta berkontribusi dalam pembangunan berkelanjutan.

Kesetaraan gender merupakan jantung dari pekerjaan yang layak. Jika kesetaraan gender diimplementasikan, maka kesejahteraan secara global dapat mengalami peningkatan hingga mencapai 21,7%. Sebaliknya, kerugian pada human capital wealth secara global diperkirakan mencapai USD 160,2 triliun akibat dari ketidaksetaraan gender. Survei Sosial Ekonomi Nasional 2017 menunjukkan bahwa persentase penduduk laki-laki dan perempuan di Indonesia hampir berimbang, yakni laki-laki sebesar 50,24% dan perempuan sebesar 49,76%. Namun, kondisi itu bertolak belakang dengan jumlah laki-laki dan perempuan yang aktif dalam perekonomian. Selama tahun 2011 hingga 2015, Survei Angkatan Kerja Nasional menunjukkan bahwa tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan berada jauh di bawah laki-laki, yakni berkisar antara 48 hingga 51 persen. Sedangkan, partisipasi angkatan kerja laki-laki hampir dua kali lipat dibandingkan perempuan, yakni mencapai 83 hingga 84 persen.

Inspektur Jenderal Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Sumiyati menyatakan jumlah perempuan di Indonesia sekitar 140 juta jiwa merupakan kekuatan bangsa. Sebaliknya, apabila perempuan tidak dapat menyumbangkan kontribusi konkret bagi pembangunan Indonesia maka akan menjadi kerugian besar bagi bangsa. Sementara itu, berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan, proporsi tenaga kerja perempuan di sektor informal mencakup 70% dari keseluruhan tenaga kerja perempuan. Tingginya peran perempuan di sektor informal dan rendahnya di sektor formal menandakan terbatasnya akses perempuan terhadap peluang pasar tenaga kerja di Indonesia. Di satu sisi, pekerjaan informal memberikan fleksibilitas. Di sisi lain, pekerjaan informal mengindikasikan kurangnya keterjaminan pekerjaan, upah yang rendah, serta keterbatasan terhadap pelatihan profesional dan promosi karir dibandingkan dengan pekerjaan di sektor formal.

Presiden Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) mengatakan, "Untuk terus berkembang, perusahaan juga perlu menciptakan tempat kerja yang ramah gender, mengembangkan investasi berorientasi perempuan, menggalakkan praktik keragaman, serta terus meningkatkan jumlah perempuan yang memegang posisi kunci di sebuah perusahaan.” Kesetaraan gender di lingkungan kerja dapat mendorong peningkatan produktivitas dan pertumbuhan bisnis secara signifikan. Kesadaran itu semakin meluas meski masih terdapat sejumlah tantangan. Bagi perusahaan, kesempatan untuk menambah lebih banyak perempuan pada jajaran dewan dan kepemimpinan senior merupakan sebuah prestasi besar.

Secara global, Kajian World Economic Forum (WEF) 2017 mengindikasikan bahwa kesetaraan gender akan meningkatkan pertumbuhan domestik bruto (PDB) global sebesar US$ 5,3 triliun. Sejalan dengan hal itu, jika tingkat partisipasi angkatan kerja, jam kerja, dan produktivitas kerja rata-rata perempuan setara dengan laki-laki, maka PDB negara-negara OECD secara teori akan meningkat sebesar 20% dan PDB yang dihasilkan oleh perempuan akan meningkat 50%. Pada posisi entry-level professional Bank Dunia, perempuan berada di angka 47%. Hal ini patut diapresiasi bersamaan dengan fakta bahwa 57% dari lulusan universitas di Indonesia adalah perempuan. Namun, angka tersebut menurun drastis untuk posisi manajemen tingkat menengah dan tinggi. Pada manajemen tingkat menengah, perempuan hanya mencakup 20% dari keseluruhan pekerja. Angkanya lebih kecil lagi untuk manajemen tingkat tinggi, yakni 5% untuk posisi CEO dan 5% untuk Board Members.

Banyak studi yang mencoba menguantifikasi potensi manfaat dari mereduksi ketimpangan gender bagi perekonomian. Umumnya penelitian menemukan bahwa terobosan kecil untuk menutup ketimpangan gender akan menunjukkan hasil yang signifikan. Alih-alih menjadi sandungan, kondisi ketimpangan gender di Indonesia dapat dilihat sebagai potensi besar kontribusi perempuan terhadap pertumbuhan ekonomi yang belum tergali. Potensi ini dapat digali melalui usaha-usaha mewujudkan kesetaraan gender di sektor ekonomi. Hal ini berarti perempuan dan laki-laki memiliki kondisi dan potensi yang sama untuk berkontribusi pada pembangunan nasional dan merealisasikan hak-haknya sebagai manusia. Wujud dari kesetaraan gender adalah tidak adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki dalam kesempatan berpartisipasi, memperoleh akses, dan merasakan manfaat dari pembangunan nasional.

Namun, peran perempuan terkadang mungkin masih di anggap rendah bagi sebagian perusahaan. Padahal peran perempuan penting bagi keberlangsungan perusahaan tersebut. Dengan adanya perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan juga dapat mendorong peningkatan produktivitas dan pertumbuhan bisnis secara signifikan. Banyak perempuan yang memang faktanya lebih kompeten daripada laki-laki. Inspektur Jenderal Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Sumiyati mengatakan, “To empower bukan sekadar to give power. Seperti halnya laki-laki yang memiliki kekuasaan, perempuan secara alamiah juga memiliki kekuasaan dengan ciri yang berbeda dengan laki-laki, sehingga kontribusinya dapat memberi nilai tambah bagi tempat mereka bekerja. Konsep empowerment yang dibutuhkan perempuan bukanlah to be given power, melainkan to be given opportunity”.

Berdasarkan survei yang ada, menyatakan bahwa perusahaan yang berada di posisi 25 persen teratas dalam keberagaman gender memiliki kemungkinan lebih besar untuk mempunyai keuntungan finansial di atas rata-rata. Berbagai keuntungan finansial itu antara lain peningkatan kualitas kinerja bisnis, perluasan jangkauan talenta sumber daya manusia, inovasi dan kreativitas, efektivitas pembuatan keputusan, serta perbaikan citra perusahaan itu sendiri.

Tetapi kesetaraan gender ini masih menjadi tantangan di Indonesia, dikarenakan kurang terbukanya pengetahuan orang-orang terhadap pentingnya kesetaraan gender pada kinerja bisnis. Tetapi hal ini dapat diatasi dengan cara, membicarakan secara terbuka mengenai hak istimewa pria yang tidak dimiliki oleh perempuan, sehingga cara memandang pria dapat berubah terhadap perempuan. Mengubah mindset pria dalam memandang perempuan itu penting, dengan mengubah pandangan pria terhadap perempuan dapat lebih mengangkat nilai kesetaraan gender.

Dari pernyataan di atas, peran menjunjung tinggi kesetaraan gender ternyata dapat membawa dampak yang baik bagi kinerja bisnis, maka dari itu upaya yang disebutkan di atas harus di lakukan oleh orang orang, agar kesetaraan gender ini lebih merata khususnya di Indonesia, dan agar stigma orang terhadap diskriminasi berkurang. Semoga artikel ini bermanfaat bagi sobat dunia kampus.

*Mahasiswa Program Studi Akuntansi (D3) Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta

Posted by Dedi Purwana 

13 komentar untuk "Perlukah Kesetaraan Gender dalam Dunia Bisnis?"

  1. Sangat bermanfaat!!! terimakasih jadi bertambah ilmunya

    BalasHapus
  2. Setuju, bahkan sampai saat ini masih ada saja diskriminasi gender

    BalasHapus
  3. bener banget ini yang menganggap bahwa perempuan masi rendah dalam melakukan pekerjaan terutama di perusahaan salah banget! karena nyatanya perempuan itu sangat hebat.

    BalasHapus
  4. Anggrayeni Kurnia15 Desember 2020 15.27

    Setuju banget sama artikel ini, dimana sekarang banyak juga yang diskriminasi gender, terutama kepada perempuan misalnya sulit naik jabatan karna dianggap mereka akan sulit fokus, tapi Nyatanya banyak juga ko ceo perempuan dan juga sukses, perlu banget nih sosialisasiin terkait hal ini

    BalasHapus
  5. Sangat setuju dengan artikel ini, pesannya mudah dimengerti. Terimakasih

    BalasHapus
  6. mantep sekali artikelnya benar2 banyak informasi yg dispill dalam artikelnya

    BalasHapus
  7. Saangat bermanfaat sekali artikelnya, terima kasih

    BalasHapus
  8. Setuju banget. Perempuan juga bisa memberikan kontribusi terbaiknya

    BalasHapus
  9. Keren banget artikelnya

    BalasHapus
  10. Owh jadi begitu. Pengetahuan baru buat aku. Makasih penulis

    BalasHapus