Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sikap Generasi Muda dalam Menghadapi Bonus Demografi

Oleh: Kartika Fatharani*

Diperkirakan pada tahun 2020-2035, Indonesia akan mendapat bonus demografi. Dimana bonus demografi ialah keadaan dimana suatu negara memiliki penduduk dengan usia 15-64 tahun atau usia produktif dengan tingkat yang tinggi dibandingkan penduduk dengan usia anak anak yaitu penduduk dengan usia dibawah 15 tahun dan lansia yaitu penduduk dengan usia diatas 64 tahun. Hal ini menandakan bahwa tingkat ketergantungan penduduk usia anak-anak dan lansia rendah, sehingga tingkat penduduk yang memasuki pasar tenaga kerja lebih banyak. Diperkirakan pada tahun 2030 adalah puncak dari bonus demografi di Indonesia.

Sikap Generasi Muda dalam Menghadapi Bonus Demografi

Bonus demografi dapat memberikan keuntungan yang luar biasa jika kita dapat memanfaatkannya dengan semaksimal mungkin. Karena jika tingkat usia produktif tinggi maka daya saing dan daya tawar pun akan tinggi. Hal ini akan membuat para investor baik dari dalam negeri maupun luar negeri tertarik untuk berinvestasi di Indonesia sehingga akan semakin besar tingkat peluang kerja yang akan mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan. Menurunnya pengangguran dan kemiskinan menandakan bahwa perekonomian di Indonesia berjalan dengan maksimal.

Indonesia sangat beruntung mendapatkan bonus demografi, karena ada beberapa negara yang tidak mendapatkannya. Oleh karena ini, generasi muda sudah seharusnya memaksimalkan potensi yang dimilikinya. Keberhasilan bonus demografi dapat ditentukan dari berbagai factor, diantaranya ialah pendidikan, kesehatan, lapangan pekerjaan dan pertumbuhan penduduk.

Pendidikan merupakan akar dari munculnya generasi muda yang berkualitas. Maka untuk memanfaatkan bonus demografi yang didapatkan Indonesia, pendidikan di Indonesia harus ditingkatkan dimulai dari fasilitas yang memadai untuk pelajar menuntut ilmu dan menyalurkan kreativitasnya. Lalu dengan memberikan sumber daya pendidik yang berkualitas agar melahirkan generasi muda yang berkualitas pula. Selain itu juga bisa menyediakan pendidikan informal demi meningkatkan tingkat pendidikan generasi muda lebih baik lagi.

Kesehatan merupakan suatu investasi yang dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang. Investor pasti akan ragu menginvestasikan uangnya di negara dengan tingkat kesehatan yang buruk karena pasti akan mempengaruhi tingkat produktivitas masyarakatnya. Maka, Indonesia harus menyediakan layanan yang mempermudah masyarakat untuk menjaga kesehatannya. Sebagai contoh, saat ini ada program BPJS. Maka Indonesia harus semakin meningkatkan efektivitas dari program tersebut agar semakin memudahkan masyarakat meraih kesehatan.

Lapangan pekerjaan merupakan jantung dari perekonomian. Jika tingkat lapangan pekerjaan lebih rendah dari tingkat masyarakat dengan usia produktif maka pengangguran dan kemiskinan akan meningkat. Maka pemerintah harus membuka lapangan pekerjaan sebesar-besarnya. Selain pemerintah, generasi muda juga harus meningkatkan kreativitas dengan menciptakan lapangan pekerjaan.

Pertumbuhan penduduk juga mendukung keberhasilan dari bonus demografi. Semakin sedikit jumlah penduduk maka semakin maksimal tingkat perekonomian di Indonesia. Indonesia harus terus menekankan program Keluarga Berencana (KB) agar Indonesia dapat memanfaatkan bonus demografi semaksimal mungkin.

Ada beberapa syarat yang dapat membuat keempat factor penentu keberhasilan bonus demografi mencapai sasaran, diantaranya masyarakat yang berkualitas sangat baik, jumlah tenaga kerja produktif yang tinggi harus diimbangi dengan tingkat lapangan kerja yang tinggi pula agar dapat meningkatkan pendapatan per kapita, menginvestasikan tabungan rumah tangga untuk kegiatan yang bermanfaat atau produktif, tingkat anak-anak yang rendah yang dapat membuat tingkat perembuat yang bekerja meningkat sehingga meningkatkan pendapatan masyarakat, serta meningkatkan kesehatan masyarakat terutama masyarakat di usia produktif.

Namun selain dampak positif, adapula dampak negatif yang ditimbulkan bonus demografi jika Indonesia tidak memanfaatkannya dengan baik, diantaranya ialah tingkat pengangguran yang tinggi, kerusakan lingkungan dan tingkat tenaga kerja asing yang tinggi di Indonesia.

Jika jumlah penduduk dengan usia produktif tinggi namun tidak diimbangi dengan lapangan pekerjaan yang ada. Maka bonus demografi bukan lagi keberuntungan bagi bangsa Indonesia, tetapi malapetaka. Karena dengan rendahnya lapangan pekerjaan namun tingkat penduduk dengan usia produktif yang tinggi akan meningkatkan angka pengangguran. Dengan tingginya angka pengangguran maka akan meningkatkan angka kemiskinan pula dan terus menyambungkan hal negative lainnya seperti tingkat kesehatan yang semakin rendah, pendidikan yang kurang dan lain sebagainya.

Jumlah penduduk dengan usia produktif juga dapat merusak lingkungan. Dengan ketidaksadarannya masyarakat atas pentingnya menjaga lingkungan, membuat lingkungan akan semakin rusak dari waktu ke waktu. Hal ini juga akan berdampak pada pemanfaatan sumber daya alam yang kurang berkualitas sehingga menurunnya tingkat perekonomian.

Indonesia akan dibanjiri tenaga kerja asing jika penduduknya tidak dapat memanfaatkan bonus demografi dengan baik. Tingkat pendidikan dan kesehatan yang rendah akan membuat para pengusaha memilih menggunakan tenaga kerja asing yang lebih berkualitas. Hal ini akan berakibat fatal karena tingkat pengangguran akan semakin besar.

Untuk itu Indonesia harus memaksimalkan pemanfaatan bonus demografi yang akan memacu pertumbuhan ekonomi. Pemerintah juga akan dapat mempersiapkan pembangunan social ekonomi ataupun fisik demi menjadikan Indonesia sebagai negara yang lebih maju lagi. Semakin majunya Indonesia akan diiringi pola pikir dari masyarakat terutama generasi muda menjadi lebih kreatif. Hal ini sudah pasti menjadi poin tambahan Indonesia bagi para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Generasi muda harus turut andil dalam mempersiapkan menghadapi bonus demografi. Dengan pola pikir yang lebih luas dan kreatif sehingga dapat menciptakan lapangan pekerjaan. Semakin banyaknya lapangan pekerjaan, maka semakin besar presentase keberhasilan dari bonus demografi di Indonesia. Meningkatkan kreativitas dapat dilakukan dengan menyeimbangkan antara dunia maya dan dunia nyata. Jangan terlalu kecanduan dengan teknologi sampai tidak dapat berinovasi karena terlena dengan fasilitas teknologi yang sudah ada tanpa mau turut andil meningkatkan teknologi yang ada.

Mahasiswa, sebagai generasi muda juga dapat berperan aktif dalam mencapai keberhasilan bonus demografi yaitu dengan aktif di kehidupan kampus baik itu akademik maupun non akademik. Dengan meningkatkan pengetahuan melalui akademik di kampus akan meningkatkan kualitas mahasiswa sebagai generasi muda yang juga sebagai penduduk dengan usia produktif. Mahasiswa juga dapat mengikuti aktivitas non akademik dengan mengikuti oraganisasi-organisasi kampus yang dapat mengasah skill-skill yang kita miliki sehingga dapat menjadi lulusan dengan kualitas yang lebih baik lagi serta siap terjun langsung di dunia kerja yang kompetitif.

Kita sebagai warga negara Indonesia juga harus mencintai produk-produk dalam negeri. Dengan menggunakan produk-produk dalam negeri maka perekonomian Indonesia juga akan membaik. Hal ini akan berdampak positif kembali kepada warga Indonesia. Karena pendapatan warga Indonesia juga akan meningkat.

Selain itu, generasi muda juga harus meningkatkan kesadaran akan pentingnya lingkungan. Dengan menjaga lingkungan kita dapat meningkatan pemanfaatan Sumber Daya Alam yang ada sehingga berdampak pada perekonomian Indonesia yang meningkat. Menjaga lingkungan juga dapat meningkatkan kesehatan masyarakat, dimana kesehatan merupakan salah satu factor penentu keberhasilan bonus demografi. Masyarakat bisa memulai menjaga lingkungan dari hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya dan lain sebagainya.

Jika pemerintah dan masyarakat Indonesia terkhusus generasi muda sudah bekerja sama melakukan hal-hal diatas maka bonus demografi akan membawa keberuntungan bagi Indonesia. Indonesia akan menjadi negara maju dari berbagai sektor, terutama pada sektor perekonomian.

*Mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta

Posted by Dedi Purwana

5 komentar untuk "Sikap Generasi Muda dalam Menghadapi Bonus Demografi"