Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengapa Intensi Berwirausaha Penting?

Oleh: Shyndy Syaputri*

Lambatnya perkembangan perekonomian Indonesia dapat disebabkan oleh tingginya angka pengangguran dan menjadi masalah yang belum terselesaikan di negara ini. Meningkatnya angka pengagguran menyebabkan nilai pendapatan masyarakat menurun. Hal tersebut dapat mengakibatkan penurunan daya beli masyarakat. Umumnya pengangguran disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan pekerjaan yang ada. 

intensi berwirausaha kalangan dunia kampus
Foto oleh Anna Tarazevich dari Pexels

Pada masa pandemi COVID-19 ini pengangguran di indonesia kembali meningkat dari tahun-tahun yang tercatat oleh BPS periode Agustus 2020 mencapai 9,77 juta orang atau mencapai 7,07% dari seluruh angkatan kerja. Dibandikan dengan tahun sebelumnya yaitu Agustus 2019 jumlah pengangguran di Indonesia hanya 7,10 juta orang atau mencapai 5,23% dari total angkatan kerja.

Berwirausaha dapat membantu mengurangi tingkat pengangguran di Indonesia. Selain itu, wirausaha juga berperan penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Wirausaha mampu menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan nasional, menciptakan nilai tambah barang dan jasa, mengurangi kesenjangan ekonomi dan sosial. Menurut catatan Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) jumlah pengusaha di Indonesia mengalami peningkatan menjadi sebesar 3,10% dibanding sebelumnya yaitu 1,67% dari total jumlah penduduk di Indonesia sebanyak 225 juta jiwa. Namun wirausaha di Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan dengan beberapa negara di Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, Thailand, filipina, Brunei Darussalam dan Vietnam.

Rendahnya niat berwirausaha dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor baik itu internal  maupun eksternal. Adapun faktor-faktor tersebut antara lain: faktor kepribadian yang dapat mempengaruhi intensi berwirausaha yaitu, kebutuhan akan prestasi, efikasi diri, locus of control, dan pengambilan resiko. Faktor kepribadian meliputi akses pada modal, informasi dari jejaring sosial, disamping itu juga faktor infrastruktur fisik dan institusional, dan faktor budaya juga dapat mempengaruhi niat dalam berwirausaha. Faktor demografi yang dapat mempengaruhi intensi berwirausaha yaitu gender, umur, latar belakang pendidikan, pekerjaan orang tua, dan pengalaman kerja.

Faktor lingkungan juga dapat mempengaruhi intensi berwirausaha karena kondisi lingkungan merupakan salah satu faktor utama dalam memperkuat ataupun melemahkan niat untuk berwirausaha. Keluarga yang memiliki latar belakang dalam mendirikan atau menjalankan usaha dapat memberikan lingkungan yang menginspirasi atau memotivasi seseorang dalam meningkatkan niatnya untuk memulai usaha. Hal tersebut mengakibatkan meningkatnya efikasi diri atau kepercayaan diri seseorang karena adanya dukungan dalam penyediaan informasi maupun sumber daya yang diperlukan untuk mendirikan atau menjalankan suatu usaha. Begitupun sebaliknya, dengan tidak adanya latar belakang keluarga yang memiliki usaha dapat membuat seseorang tidak memiliki niat dalam berwirausaha karena tidak memiliki gambaran secara nyata dalam mendirikan ataupun menjalankan suatu usaha. Namun, banyak pengusaha yang sukses di dunia bahkan Indonesia yang mempunyai latar belakang keluarga biasa bahkan jauh dari kata berkecukupan.

Rendahnya niat berwirausaha di Indonesia menjadi pimikiran yang serius bagi pemerintah dalam meningkatkan wirausaha, maka dari itu untuk mendukung kewirausahaan pemerintah membuat sejumlah kebijakan seperti bantuan modal usaha bagi wirausahaan pemula, peningkatan akses pasar hingga program pelatihan dan pendidikan kewirausahaan. Pendidikan kewirausahaan dapat diperoleh di perguruan tinggi ataupun di sekolah kejuruan. Dalam pendidikan kewirausahaan akan diberikan pelajaran tentang kewirausahaan yang mengajarkan tentang bagaimana cara-cara berwirausaha. Pendidikan kewirausahaan dapat meningkatkan efikasi diri atau kepercayaan diri seseorang untuk menumbuhkan niat berwirausaha dengan tersedianya pengetahuan dan kemampuan yang dibutuh dalam membuka suatu usaha.

Keuntungan dan kerugian dalam berwirausaha

Banyak wirausaha yang berhenti ditengah jalan karena ekpektasi tetang pendapatannya akan tinggi tidak sesuai dengan realita yang dijalaninya. Hal ini menyebabkan kurangnya motivasi dan kepercayaan dirinya dalam menjalankan usahanya. Oleh karena itu, dalam mengambil sebuah keputusan untuk menjadi wirausaha selalu mengandung 2 (dua) konsekuensi yang harus ditanggung yaitu keuntungan dan kerugian. Keuntungan menjadi wirausaha ialah:

  1. Dapat memilih bidang usaha sesuai dengan minat dan bakat. Wirausahawan yang memiliki bidang usaha yang sesusai dengan minat dan bakatnya maka ia akan mencurahkan perhatian dan kemampuannya untuk mengembankan usahanya.
  2. Keuntungan usaha menjadi milik sendiri. Wirausaha akan mendapatkan hasil keuntungan dari usaha yang dibangunnya.
  3. Memperoleh status. Status sebagai pemilik perusahaan dapat menjadi kebanggan tersendiri dibandikan hanya bekerja sebagai karyawan. 
  4. Memperoleh kepuasan. Keberhasilan dalam mengelola usaha maka akan memberikan kepuasan tersendiri bagi seorang wirausaha. Kepuasan tersebut secara tidak langsung dapat memotivasi wirausaha untuk terus meningkatkan usahanya dengan mengembangkan ide-ide kratif yang diluar pikiran manusia (berfikir out of the box).
  5. Tidak diperintah orang lain. Sebagai pemilik usaha, maka tidak ada orang lain yang akan memerintahnya. Namun tetap harus bijaksana dalam memberikan perintah kepada bawahannya dan tidak boleh semena-mena dalam memerintah.
  6. Berhak mengambik keputusan. Ketepatan dalam pengambil keputusan dapat menjadi suatu hal yang penting dalam perusahaan. Seorang wirausaha dapat meminta pendapat atau pertibangan kepada karyawan, konsultan maupun pihak lain untuk menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusannya.

Sedangkan kerugian dalam menjadi wirausaha ialah sebagai berikut:

  1. Jam kerja panjang dan tidak teratur. Seorang wirausaha memungkinkan dapat bekerja dengan jam kerja yang sangat panjang karena waktunya benar-benar diberikan untuk kepentingan usahanya, apalagi jika usaha yang sedang dijalankannya sedang menghadapi kerugian atau sebaliknya karana ingin mendaparkan keuntungan yang lebih besar dari sebelumnya pada periode tertentu.
  2. Pendapatan tidak stabil. Pendapatan seorang wirausaha tergantung waktu dan kondisi atau bisa dibilang pendapatannya tidak tentu atau stabil tergantung dari keuntungan usahanya, tidak seperti karyawan yang memiliki pendapatan yang stabil.
  3. Menanggung resiko dan tanggung jawab luas. Wirausaha memiliki tanggung jawab yang luas terhadap keberhasilan dan kegagalan dalam usahanya dan juga harus menanggu resiko pada saat usahanya mengalami kerugian maupun pada pengambilan keputusan yang salah.

Oleh karena itu sangat penting untuk meningkatkan niat berwirausaha dengan pengetahuan yang didapat melalui pendidikan kewirausahaan, kepercayaan diri maupun pengalaman dari lingkungan keluarganya. Kita tentu berharap jumlah wirausaha di Indonesia semakin meningkat. Peningkatan jumlah tersebut tentu dapat mengurangi pengangguran melalui penciptaan lapangan kerja yang baru. Pada saat yang sama, akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Semoga terwujud mimpi negara ini menjadi negara dengan perekonomian terbesar kelima di dunia pada tahun 2045. Semoga artikel ini bermanfaat untuk sobat dunia kampus.

*Mahasiswa Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta.

 Posted by Dedi Purwana

Posting Komentar untuk "Mengapa Intensi Berwirausaha Penting?"