Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengapa Pendidikan Kewirausahan Penting?

Penulis: Dedi Purwana

Sobat dunia kampus, pastinya sudah mahfum. Pemerintah Indonesia melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan tengah gencar menginternalisasikan kewirausahaan sebagai bagian penting pendidikan karakter bagi anak bangsa. Adapun yang dimaksud dengan pendidikan kewirausahaan dari perspektif kelembagaan, merupakan upaya menginternalisasikan jiwa dan mental kewirausahaan baik melalui institusi pendidikan maupun institusi lain seperti lembaga pelatihan, training dan sebagainya. Bahkan lingkungan keluarga sebenarnya merupakan tempat terbaik menanamkan sikap mental kewirausahaan anak.

dunia kampus mengapa pendidikan kewirausahaan penting
Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay

Sementara itu, dari perspektif proses pendidikan kewirausahaan dimaknai sebagai usaha terencana dan aplikatif untuk meningkatkan pengetahuan, intensi/niat dan kompetensi peserta didik untuk mengembangkan potensi dirinya dengan diwujudkan dalam prilaku kreatif, inovatif dan berani mengelola resiko.

Pendidikan kewirausahaan bertujuan untuk membekali peserta didik dengan kompetensi pengetahuan, sikap dan ketrampilan sebagai wirausahawan. Capaian pembelajaran dari pendidikan ini adalah melahirkan wirausaha yang mampu memberdayakan ekonomi baik untuk dirinya maupun masyarakat. Sosok individu-individu tangguh yang terdorong untuk memanfaatkan peluang, mencari terobosan, dan menggali nilai tambah ekonomi. Mereka sadar masyarakat membutuhkan kiprahnya.

Pendidikan kewirausahaan menjadi kajian internasional terkini dan terus diteliti dan dikembangkan secara dinamis di seluruh belahan dunia. Pendidikan kewirausahaan dilakukan mulai dari pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/MTs), pendidikan menengah (SMK/SMA) hingga pendidikan tinggi (Universitas/Politeknik). Bahkan menariknya sudah ada playgroup of entrepreneurship untuk anak-anak usia dini. 


Maraknya pendidikan kewirausahaan di seluruh dunia, lantaran meningkatnya kesadaran akan pentingnya karakter kewirausahaan pada generasi muda (kreatif, inovatif dan berani mengelola resiko). Lebih dari itu, mulai disadari pentingnya kedudukan seorang entrepreneur sebagai motor pergerakan perekonomian suatu negara. Seperti pernah dikatakan McClelland: “Negara akan makmur jika entrepreneur dalam suatu negara mencapai 2 % dari keseluruhan penduduknya.

Sayangnya, pandangan keliru masyarakat mengenai pendidikan kewirausahaan sudah mengakar. Keliru pandang tersebut berupa:

Pertama, anggapan bahwa jika kita ingin memasukkan pendidikan kewirausahaan, maka harus membuat kurikulum baru. Anggapan ini jelas keliru. Pasalnya, pendidikan kewirausahaan bukan menjadi bentuk tersendiri, atau mandiri (otonom), tetapi justru terintegrasi, memperkaya dan mempertajam kurikulum yang sudah ada.

Masuknya kurikulum kewirausahaan, bukan berarti mengubah total pola kurikulum pendidikan yang selama ini diterapkan, namun hanya memasukkan substansi pendidikan kewirausahaan pada kurikulum pendidikan. Substansi kurikulum berbasis kewirausahaan pada dasarnya adalah pembentukan karakter kewirausahaan pada peserta didik, termasuk rasa ingin tahu, fleksibilitas berpikir, kreativitas dan kemampuan berinovasi. Kreativitas dan daya inovasi, tidak akan tumbuh jika model pemikiran yang dibentuk sekolah-sekolah adalah model pemikiran kaku. Kurikulum berbasis kewirausahaan ini selanjutnya akan menjadi bagian materi pelajaran pada setiap jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar/madrasah Ibtidaiyah (SD/MI) hingga perguruan tinggi. Bentuk materi kewirausahaan akan disesuaikan dengan jenjang pendidikannya.

Kedua, ada pula anggapan jika pendidikan kewirausahaan itu sama halnya mengajari anak didik berdagang. Anggapan ini terlalu sempit dan jelas keliru besar. Pendidikan kewirausahaan itu cakupannya lebih luas, sementara berdagang itu hanya bagian kecil dari pendidikan kewirausahaan. Pendidikan kewirausahaan bukan sekedar membentuk seseorang menjadi wirausaha, tetapi membekali orang tersebut dengan mental kewirausahaan yang cakupannya lebih luas dan kompleks.

Ketiga, anggapan mempelajari pendidikan kewirausahaan itu selepas lulus kuliah. Anggapan ini salah besar. Semestinya pendidikan kewirausahaan itu dimulai sejak kecil, sehingga kewirausahaan sudah mendarah-daging atau menjadi karakter anak; bukan sekedar ilmu praktis. Dengan demikian, mengajari anak kewirausahaan selepas mereka lulus jelas sebuah pekerjaan sia-sia. Pendidikan kewirausahaan di tingkat dasar atau sekolah bertujuan membentuk manusia secara utuh (holistik), yaitu selain sebagai insan yang memiliki karakter, juga memiliki pemahaman dan ketrampilan sebagai seorang wirausaha.

Anggapan keliru tersebut harus dikikis, agar semangat melahirkan wirausaha baru di bumi pertiwi tetap tinggi. Ingat pesan Adam Smith (suhunya Ilmu Ekonomi) bahwa kewirausahaan merupakan sumberdaya ekonomi, selain modal, tenaga kerja dan tanah atau lahan. Wirausahalah yang mengupayakan agar modal, tenaga kerja dan tanah dapat menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat, sehingga memperoleh keuntungan atas usahanya tersebut.

Sumberdaya ekonomi ada di sekitar rumah sobat dunia kampus, misalnya sobat dunia kampus punya sedikit uang sebagai modal usaha, tenaga kerjanya adalah kalian sendiri atau melibatkan ayah, ibu dan adik, sedangkan tempat usaha memanfaatkan rumah kalian sendiri. Jadi tunggu apalagi, ayo sobat dunia kampus mulai berwirausaha! 

Posting Komentar untuk "Mengapa Pendidikan Kewirausahan Penting?"