Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Selayang Pandang Penelitian Kualitatif

Sobat dunia kampus, banyak kalangan ilmuwan yang membedakan dengan tegas antara penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Perbedaan kualitatif dan kuantitatif tidak terlalu bersifat jelas (distint) dalam ilmu-ilmu sosial. Penelitian kuantitatif lebih merefleksikan tendensi kepada ’the general public to regard science as relating to number and implying precision’, sedangkan penelitian kualitatif lebih mempertanyakan hal-hal yang bersifat abstrak, memerlukan kerja yang lebih panjang dan ’requires greater clarity of goal during design stage’

Selayang Pandang Penelitian Kualitatif
Gambar oleh PDPics dari Pixabay

Perbedaan yang paling signifikan antara dua pendekatan itu  terletak pada : (1) Penelitian kualitatif  ’indicates that notion of quality is essensial to the nature of things’, sedangkan pada (2) penelitian kuantitatif  ‘quantity is elementally an amount of something’. Kualitas dalam penelitian kuantitatif merujuk pada ‘what, how, when, and where of thing’. Hal ini merupakan  pokok atau inti. Sedangkan pada peneliti
an kualitatif lebih merujuk kepada ‘the meanings, concept, definitions, characteristics, metaphors, symbols and descriptions of things’.

Penelitian kualitatif banyak digunakan oleh para ilmuwan sosial karena banyak fenomena sosial dan fakta empiris yang tidak dapat dikuantifikasikan. Ilmu pengetahuan yang berkembang saat ini tidak hanya diperoleh dari penggunaan pendekatan kuantitatif, tetapi jaga dilakukan dengan suatu upaya spesifik dan sistematik dalam memperoleh dan memahami bagaimana realitas sosial itu dapat muncul, beroperasi atau bekerja, serta berpengaruh besar kepada individu manusia dan organisasi individu. Penelitian kualitatif amat memperhatikan kepada apa yang sering kita sebut sebagai ’life world’. Melihat dan mendalami ’life world’ dengan meneliti atau melakukan investigasi fenomena-fenomena yang berkembang ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu, pada penelitian kualitatif fokus penelitian berada pada ’naturally emerging langguage and the meaning of individual’ seperti emosi, motivasi, symbol dan artinya, serta empati.

Penelitian kualitatif merupakan suatu payung yang membawahi berbagai style, gaya dalam penelitian sosial seperti yang terdapat pada penelitian dalam disiplin ilmu sosiologi, antropologi atau psikologi sosial. Dalam kelompok ilmu ini, ada beberapa elemen yang sama yang dapat mencirikan pendekatan penelitian kualitatif. Beberapa elemen yang sama itu dapat kita sebutkan sebagai berikut : (1) Penelitian kualitatif sangat konsen dengan ’makna’ atau ’meanings’ dan bagaimana cara orang memahami berbagai hal (proses) yang sedang, telah dan akan terjadi disekitarnya. Dalam hal ini, aktivitas manusia dilihat sebagai suatu produk dari symbol dan makna yang digunakan oleh anggota masyarakat. Oleh karena itu, setiap symbol dan makna dari semua aktivitas manusia perlu dianalisa, diinterpretasikan. (2) Penelitian kualitatif juga sangat konsen dengan pola-pola prilaku manusia (patterns of behaviour) seperti ritual, tradisi, dan hubungan-hubungan antara manusia di dalam suatu masyarakat. Interaksi antara manusia ini diekspresikan sebagai pola-pola prilaku/tindak tanduk, norma-noma budaya dan bentuk-bentuk bahasa yang digunakan oleh masyarakat. 

Jika mencermati beberapa elemen di atas, maka dapat kita katakan bahwa data kualitatif  merupakan produk dari suatu proses interpretasi seorang atau sekelompok orang peneliti. Data kualitatif tidak ada dalam kondisi ’out there’ yang menunggu untuk ditemukan seperti yang dilakukan oleh para peneliti yang mengunakan pendekatan kuantitatif, positivistic approach. Tetapi, data kualitatif ’are produced by the way they are interpreted and used by researchers’. Dengan demikian, peneliti sangat berperan di dalam memproduksi atau menghasilkan dan menginterpretasikan data kualitatif. Peneliti harus mengidentifikasi nilai-nilai dan kepercayaan yang berkembang di dalam masyarakat, tanpa dipengaruhi oleh nilai-nilai dan kepercayaan yang dianut oleh dirinya sendiri. Peneliti harus melepaskan diri dari identitas dirinya sendiri. Itulah sebabnya, pada penelitian kualitatif, peneliti harus dapat mendiskripsikan data yang diperolehnya melalui cara menginterpretasikan data-data itu oleh dirinya sendiri untuk sampai kepada ’generating theories’.

Kalau kita hendak melakukan penelitian maka sesungguhnya kita harus terlibat didalam suatu proses. Mengapa demikian?  Karena penelitian itu merupakan suatu proses. Suatu proses merupakan sutau seri yang menghubungkan antara satu aktivitas dengan aktivitas yang lain. Bergerak dari awal hingga mencapai akhir. Proses penelitian tidak merupakan sesuatu yang bersifat rigit, kaku, atau tetap seperti kalau kita mengerjakan A maka kita harus mengerjakan A dahulu baru kemudian beralih kepada jenis pekerjaan B. Penelitian kualitatif ’dapat saja’ dilakukan tanpa suatu proses yang bersifat rigit (Gary D Baouma & G.B.J. Atkinson, 1999: 9-10).

Ada beberapa fase utama yang dapat dilalui dalam mengerjakan penelitian yaitu : (1) Fase pertama adalah fase yang paling pokok dimana seorang peneliti dalam fase ini harus mengungkapkan isu-isu utama, gagasan-gagasan utama dari apa yang hendak ditelitinya. Memfokuskan isu utama penelitiannya, merumuskan masalah pokoknya, merumuskan pertanyaan-pertanyaan penelitian. Kemudian peneliti melakukan klarifikasi terhadap  isu-isu itu melalui penelusuran berbagai teori dan hasil penelitian yang relevan, yang pernah dilakukan penelitian lain berkaitan dengan isu-isu pokok atau gagasan yang telah diekemukakan. Kemudian, pada fase ini pula seorang peneliti memilih dan menentukan metode penelitian yang akan digunakannya dengan cara menentukan sampel, menentukan perancangan penelitian yang dapat memberikan gambaran bagaimana analisis akan dilaksanakan. (2) Fase kedua adalah  mengumpulkan data. Pada fase ini seorang peneliti mempersiapkan berbagai instrumen dan alat yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data yang dapat menjawab pertanyaan penelitian. Berbagai metode pengumpulan data dapat digunakan sesuai dengan keperluan, jenis, dan sifat data yang hendak dikumpulkan. (3) Fase ketiga adalah analisis dan interpretasi. Pada fase ketiga ini seorang peneliti harus melakukan interpretasi dari hasil pengumpulan data. Hasil pengumpulan data  ’diujikan’ dengan pertanyaan penelitian yang sudah ditentukan pada fase sebelumnya. Kemudian peneliti melakukan ’drawing conclutions’dari hasil interpretasi hasil penelitian. Dalam fase ini juga seorang peneliti menilai kembali keterbatasan-keterbatasan penelitian, kemudian berakhir pada penyusunan saran dan pendapat. Saran dan pendapat dirumuskan dari hasil penelitian untuk disumbangkan kepada masyarakat atau kepada keperluan penelitian lanjutan terhadap berbagai isu pokok yang menjadi perhatian utama hasil penelitian.

Ketiga fase utama penelitian itu merupakan suatu proses yang harus dilalui dan dikerjakan oleh seorang peneliti, karena penelitian merupakan suatu disiplin atau cara untuk menjawab berbagai pertanyaan yang ada dan berkembang di dalam masyarakat dengan lebih akurat dan tepat.

Sebagian kelompok ilmuwan sosial sering menyampaikan kritik terhadap penelitian kualitatif, karena penelitian kualitatif seringkali dianggap tidak memiliki kerangka acuan perancangan penelitian yang jelas seperti apa yang terjadi pada penelitian kuantitatif. Perbedaan pandangan seperti ini telah lama menjadi ’perdebatan’, tetapi tidak ada satupun metode pencarian kebenaran pengetahuan yang dapat mengklaim dirinya yang paling baik atau benar. Pada penelitian kualitatif, perancangan penelitian tetap diperlukan, walaupun tidak serigit pada penelitian kuantitatif.  Perancangan penelitian kualitatif diperlukan sebagai acuan atau ’guideline’ peneliti ketika bekerja di lapangan.

Penelitian kualitatif melihat realitas sosial itu menerupakan sesuatu yang sangat kompleks, terlalu relatif, bahkan sangat kaya informasi yang tidak dapat didekati hanya dengan peta-peta konseptual yang bersifat konvensional atau melalui instrumen yang dibakukan (Matthew B. Miles & A. Michael Huberman, 1992: 28-29). Penelitian kualitatif lebih mendorong menggunakan pendekatan ’grounded’ yang bersifat induktif, mengandung pembaharuan dan terstruktur lebih longgar untuk menjaring data. Kerangka konseptual harus muncul secara empiris di lapangan ketika penelitian berjalan. Permasalahan-permasalahan penelitian yang paling penting akan menjadi jelas belakangan. Latar atau setting dan pelaku-pelaku yang paling bermakna tidak akan dapat diramalkan, atau sekurang-kurangnya belum dapat diramalkan, sebelum penelitian lapangan dilakukan. Instrumen-instrumen akan berubah, karena instrumen itu harus berasal dari sifat-sifat latar sosial dan dari cara interpretasi pelakunya.

Oleh karena itulah, peneliti mempunyai waktu yang lebih leluasa untuk menjelajah, memahami fenomena-fenomena, melihat fakta empiris, melihat realitas sosial yang sangat kompleks. Itu sebabnya, rancangan penelitian kualitatif ’dibuat dengan longgar’, dan sangat bersifat induktif.

Pada penelitian kualitatif seringkali ditemukan bahwa data-data tersedia dalam format yang tidak standar. Oleh sebab itu, kemampuan interpretasi seorang peneliti menjadi sangat penting untuk memahami data yang tersebar dilapangan. Data pada penelitian kualitatif biasanya dianalisa melalui diskripsi atau ’narrative’ dari suatu situasi yang sedang diselidiki.  Analisa naratif biasanya memerlukan diskripsi yang bersifat detail, padat, ’rapat’ terhadap ’setting’. Deskripsi semacam ini sering kita sebut sebagai ’a thick description’.

Seperti telah diuraikan diatas, bahwa pada penelitian kualitatif refleksi yang dilakukan oleh seorang peneliti terhadap identifikasi ‘pattern and processes, commonalities and differences’ menjadi sangat vital, kalau tidak hendak kita katakan sangat penting. Oleh karena itu kesiapan dan kelengkapan kerja peneliti dilapangan seperti catatan lapangan, trankripsi dari hasil wawancara atau trankripsi dari text yang ditemukan di lapangan menjadi sangat penting, karena semua itu harus tetap terjaga dalam keadaan ‘on the lookout for themes’, berhati-hati, ‘awas atau waspada’ agar tidak melenceng dari tema utama pembahasan. Atau data lapangan tersebut harus tetap berada dalam ‘interconections’ yang berulang-ulang antara ‘unit’ (unit analisa), kategori-kategori yang muncul.                 

Referensi

Miles,M.B; & Huberman,M.A. (1995). Qualitative Analysis: An Expanded Sourcebook (2nd ed). Thousand Oaks. California: Sage.

Bouma, D.G; & Atkinson, G.B.J. (1999). A handbook of Social Science Research. A Comprehensive and Practical Guide for Students. New York. Oxford University Press. 

Posting Komentar untuk "Selayang Pandang Penelitian Kualitatif"