Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Apakah Pandemi Menjadi Akhir dari Silaturahmi?

Oleh: Muhammad Febriansyah*

Apa itu silaturahmi? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata silaturahmi berarti tali persahabatan (persaudraan). Kata ini diserap dari bahasa arab yakni “silaturahim” yang memiliki arti sama. Silaturahmi berarti bertemu dang mengunjungi orang-orang terdekat seperti keluarga, teman, rekan kerja dan lain-lain.

Apakah Pandemi Menjadi Akhir dari Silaturahmi?

Silaturahmi merupakan hal yang sangat lumrah ada di Indonesia dan juga merupakan budaya yang menjadi ciri khas manusia bagian timur. Di Indonesia silaturahmi merupakan hal yang wajib dilakukan agar terciptanya hubungan yang kuat antara orang dengan keluarganya, antara orang dan temannya dan masih banyak lagi hubungan yang bisa kuat jika melakukan silaturahmi. Namun pada akhir-akhir ini budaya silaturahmi mengunjungi orang-orang terdekat lama kelamaan mulai hilang seiring dengan majunya teknologi.

Perkembangan teknologi lama-kelamaan menggeser beberapa kebiasaan manusia pada masa lalu dan menggantikannya dengan hal yang lebih modern, efisien dan efektif. Tentunya kebiasaan silaturahmi juga ikut terdampak dari massifnya penggunaan teknologi ini, jika pada masa lalu seseorang harus menempuh perjalanan jauh untuk mengunjungi keluarganya maka pada masa ini orang tidak perlu lagi menempuh jarak itu dengan adanya video call/video conference.

Tentu “feels” yang didapat dari silaturahmi via teknologi akan sangat berbeda dengan jika kita melaksanakan silaturahmi secara langsung. Banyak hal yang tidak bisa kita dapatkan dari silaturahmi secara online disbanding jika kita bersilaturahmi dengan mengunjungi langsung dan duduk bersama.

Pada bulan Maret tahun 2020 Indonesia menemukan kasus nomor satu Covid-19, hal ini membuat kepanikan pada banyak masyarakat Indonesia. Banyak masyarakat berbondong-bondong memborong masker. Harga masker yang awalnya hanya berkisar dua puluh ribu rupiah sampai dengan lima puluh  ribu rupiah pada saat itu melambung tinggi hingga mencapai lima ratus ribu rupiah satu kotaknya. Masker dan hand sanitizer menjadi barang yang sangat langka dan mahal pada awal pandemic itu. Bahkan beberapa rumah sakit di sampai kekurangan stok masker karena sudah dibeli banyak oleh oknum yang memanfaatkan keadaan. Hal ini tentu amat disayangkan mengingat pada saat pandemi ada sekelompok orang yang tega memanfaatkan keadaan untuk keuntungan diri sendiri.

Namun akhirnya pemerintah mengeluarkan regulasi agar harga masker dan hand sanitizer menjadi normal Kembali dan memberikan hukuman bagi mereka para oknum yang melakukan penimbunan masker dan hand sanitizer serta pemerintah juga menyerukan penggunaan masker kain jika tidak ada masker medis. Hal itu sangat berdampak pada peredaran masker yang menjadi tidak langka dan harga masker yang kembali pada harga normalnya yang juga menyebabkan penimbun masker menjadi merugi.

Pemerintah juga mulai mengeluarkan anjuran untuk mengurangi kegiatan diluar dan melibatkan banyak orang agar penyebaran virus ini menjadi terbatas dan diharapkan bisa memutuskan rantai penyebaran dari virus corona ini. Social distancing menjadi fokus utama pemerintah dalam program memerangi covid-19, selain itu pemerintah juga mengeluarkan anjuran untuk hidup sehat dan selalu menjaga Kesehatan dan kebersihan diri sendiri dan juga lingkungan.

Lalu apakah Pandemi ini bisa lebih memudarkan silaturahmi? Tentu kita sudah mengetahui bahwa pada masa pandemi ini kegiatan yang melibatkan banyak orang harus dikurangi bahkan kalua bisa digeser dengan menggunakan teknologi (video call atau video conference). Ketika sebelum pandemi penggunaan teknologi juga mulai menggeser budaya orang Indonesia ini. Namun apakah setelah pandemi kegiatan ini akan tetap menggunakan  bantuan teknologi atau akan kembali seperti masa sebelum pandemic Covid-19 ini.

Menurut pandangan saya dan juga analisa terhadap beberapa tanggapan teman-teman saya di bebrapa platform sosial media mereka. Mereka bahkan sangat ingin berkumpul Bersama keluarga dan teman-teman mereka. Bahkan ada di antara mereka yang sangat ingin Kembali bersekolah di sekolah mereka, belajar di kampus mereka dan juga ingin kembali bekerja di tempat mereka bekerja. Jadi dapat dipastikan bahwa walaupun pandemi dan juga teknologi perlahan menggeser juga memaksa kita untuk menerapkan kebiasaan untuk tidak berkumpul pada saat ini namun dapat dipastikan bahwa setelah pandemi ini orang-orang akan kembali bersilaturahmi.

Namun kita harus tetap mengikuti anjuran pemerintah dalam hal menerapkan kebiasaan baru agar penyebaran virus ini bisa diatasi, seperti contohnya :

  1. Rajin mencuci tangan. Penyebaran virus ini dapat dikatakan Sebagian besar bertransmisi melalui sentuhan tangan ke area wajah. Selain virus corona yang dapat dihilangkan dengan mencuci tangan dengan sabun secara rutin, virus dan bakteri lain juga dapat hilang.
  2. Sebisa mungkin menghindari sentuhan fisik. Sebisa mungkin untuk menghindari sentuhan fisik dengan orang lain dan juga benda-benda di luar rumah karena penyebaran virus ini Sebagian besar melalui sntuhan fisik.
  3. Jaga Jarak. Paling tidak jaga jarak sekitar 1,5 meter dari orang lain tidak hanya di tempat umum namun juga diterapkan di rumah tinggal sendiri.
  4. Menerapkan etika batuk dan bersin. Sebaiknya seseorang yang akan bersin menutup mulut dan hidungnya dan juga berpaling dari orang lain. Selain itu setelah bersih diwajibkan untuk mencuci tangannya dengan sabun.
  5. Hindari berbagi barang pribadi. Peneliti telah mengumumkan bahwa virus corona bisa bertahan selama beberapa jam hingga beberapa hari pada permukaan benda-benda. Maka dari itu, sangat penting bagi orang-orang untuk tidak berbagi dengan orang lain, seperti peralatan makan, sedotan, handphone, hingga sisir.
  6. Rajin bersih-bersih rumah. Selain diri sendiri menjaga kebersihan tempat tinggal juga amat penting dan juga menjadi salah satu cara yang sangat ampuh dalam mencegah penyebaran virus corona.
  7. Menjaga imunitas tubuh. Menjaga imunitas tubuh juga sangat penting untuk dilaksanakan dan bahkan pemerintah juga seringkali menghimbau pada para masyarakat Indonesia agar senantiasa menjaga imunitas tubuhnya dengan cara : makan makanan yang sehat dan juga bergizi tinggi, melakukan olah raga secara rutin dan lain sebagainya.
  8. Selalu menerapkan protokol Kesehatan “3 M”. Kebiasaan menerapkan 3 M yaitu, mencuci tangan, menjaga jarak dan yang terakhir adalah memakai masker dianjurkan pemerintah guna memutus mata rantai penyebaran covid-19 ini.

Jika kita bisa mejaga kesehatan dan juga menerapkan apa yang sudah pemerintah anjurkan kepada masyarakat maka penyebaran virus corona dapat segera diakhiri dan juga masyarakat Indonesia juga bisa melakukan kegiatan berkumpul Kembali layaknya seperti sedia kala, namun tetap perlu diperhatikan juga protocol kesehatannya bila covid-19 ini telah berhasil dijinakkan. Virus corona akan tetap ada namun dengan pemberian vaksin maka imunitas seseorang akan bisa mencegah virus ini menjadi penyakit dalam tubuh kita. Pandemi tentu saja menghalangi segala kegiatan kita, namun kita juga perlu untuk beradaptasi, bukannya menolak keadaan seperti ini dengan bertindak semaunya. Semoga setelah membaca tulisan ini penulis harapkan masyarakat Indonesia bisa tersadar akan keadaan saat ini dan mau mengikuti anjuran pemerintah. Nah, jangan putus silaturahmi yah sobat dunia kampus!

*Mahasiswa Program Studi Akuntansi (D3) Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta

Posted by Dedi Purwana 

16 komentar untuk "Apakah Pandemi Menjadi Akhir dari Silaturahmi?"

  1. Informatif artikelnya

    BalasHapus
  2. Sangat bermanfaat dan juga informatif nih artikelnya

    BalasHapus
  3. Artikelnya keren, banyak opini yang keren. Good job penulis

    BalasHapus
  4. Keren sangat bermanfaat artikelnya

    BalasHapus
  5. Artikelnya keren sekali, dan sangat informatif

    BalasHapus
  6. Terima kasih penulis sudah membuat artikel yang bagus

    BalasHapus
  7. Mantap artikelnya sangat menarik dan informatif. Terimakasih penulis.

    BalasHapus
  8. artikel dengan judul yg menarik serta isinya pun sangat informatif

    BalasHapus