Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bersosialisasi Secara Online Saat Pandemi Covid-19

Oleh: Muhammad Daffa Dwiriyanto*

Menurut Ketua WHO, Tedros Adhanom  Ghebreyesus dalam suatu pertemuan di Jenewa “Covid-19”  adalah sebuah kata singkatan, berawal dari ‘Co’ yang berarti ‘Corona’, ‘Vi’ yaitu ‘virus’, dan huruf “d” untuk ‘disease’ yang artinya ialah penyakit, sedangkan angka “19”  di dalam penyebutannya adalah tahun awal mula ditemukannya, yaitu di Kota Wuhan, Cina, pada tanggal 31 Desember 2019. Covid – 19 adalah suatu wabah yang tergolong baru yang tercipta secara tidak sengaja di wuhan, Tiongkok. "Virus ini, seperti halnya pendahulunya, MERS dan SARS, mematikan karena menyerang paru-paru dan menimbulkan  Acute Respiratory Distress Syndrome yang membahayakan nyawa penderita sehingga memerlukan ventilator untuk bertahan hidup,"  berdasarkan keterangan dari Richard selaku Head of Master in Bio Management i3L dari keterangan resmi yang diterima oleh Suara.com. 

Foto oleh cottonbro dari Pexels

Lalu berdasarkan keterangan dari ahli virus atau virologis Richard Sutejo, beliau menyatakan bahwa virus corona yang merupakan peyebab penyakit Covid-19 merupakan virus yang umumnya menyerang saluran pernafasan. Namun strain covid-19 memiliki morbiditas dan mortalitas yang lebih tinggi akibat adanya mutasi genetik dan kemungkinan transmisi inter-spesies. Virus ini menyebar secara bebas dikarenakan mobilitas manusia yang tinggi, lebih tepatnya yaitu aktivitas manusia yang bepergian ke berbagai macam negara. Baik warga negara Wuhan, Tingkok yang telah terindikasi positif tanpa mereka ketahui bepergian ke berbagai tempat maupun warga dari luar Wuhan, Tiongkok yang singgah di Wuhan, Tiongkok lalu Kembali ke tempat asalnya dengan membawa virus tersebut.

Berdasarkan pernyataan dari WHO, penularan covid – 19 dapat melalui benda – benda sehari – hari yang kita sentuh dengan tangan kita lalu kita menyentuh hidung, mulut, dan mata kita tanpa membersihkannya terlebih dahulu. Lalu gejala – gejala umum yang timbul pasca kita terinfeksi virus ini yakni demam, batuk kering tanpa dahak, mudah merasa lelah, merasa tidak nyaman dan perih pada bagian tubuh, nyeri tenggorokan, diare, dan lain sebagainya. Namun terdapat pula orang yang terinfeksi, namun mereka tidak merasakan gejala – gejala yang telah disebutkan tadi sebelumnya, orang – orang tersebut dapat dikatakan sebagai orang tanpa gejala atau disingkat OTG dan kita pun harus saling waspada atas OTG ini karena bisa saja orang – orang ini ada di sekitar kita ataupun kita sendiri lah yang menjadi OTG tanpa kita sadari sebelumnya  Tidak dapat dihindari lagi bahwa pandemic covid – 19 yang menyerang seluruh bagian dunia ini memberikan berbagai macam dampak kepada seluruh manusia yang tinggal di dalamnya. Baik secara social, ekonomi, fisik, psikis, dan yang lainnya.

Dari segi sosial, virus corona telah menyebabkan beberapa macam dampak, namun sebagian orang menganggap dampak tersebut merupakan dampak baik dan sebagian lainnya menganggap bahwa ini merupakan dampak buruk. Dampak yang diberikan yang pertama yaitu saat pandemi covid – 19 ini telah merubah gaya hidup seluruh manusia dari berbagai macam golongan, mulai dari pekerja kantoran, pengusaha, ojek online, pegawai restoran, dan sebagainya sekarang harus lah saling menjaga jarak antar satu sama lain. Hal ini harus dilakukan demi memutuskan rantai penyebaran penyebab virus covid – 19 ini agar terputus dan tidak menyebar ke lingkup lebih luas lagi. Kita harus mengusahakan untuk menjaga jarak dengan orang – orang di sekitar kita seminimal mungkin kurang lebih 2 meter atau lebih. Karena diharuskan berjaga jarak jarak tadi, beberapa orang mungkin akan merasa ”insecure”, merasa parno sendiri dan tidak mempercayai sekitarnya. Mereka berpikiran bahwa orang – orang di sekitarnya telah terinfeksi virus covid – 19 atau barang – barang di sekelilingnya telah menempel virus – virus penyebab covid – 19.

Dampak sosial yang kedua yaitu ditutupnya sekolah dan kampus demi meminimalisir penyebaran virus covid – 19 pada tempat tersebut dan meminimalisir penyebarannya pada usia anak – anak hingga remaja lalu mengganti media proses pembelajaran dengan media online seperti Zoom, Google Meet, Google Class Room, serta media - media online lainnya. Hal tersebut merupakan hal yang baik sekaligus hal yang buruk bagi para siswa dan mahasiswa. Dapat dikatakan seperti begitu dikarenakan mereka tidak harus lagi merasakan penat dan capek karena berhadapan dengan kemacetan saat berangkat sekolah atau berangkat ke kampus. Bahkan, mereka pun tidak perlu mandi dan mempercantik diri seperti saat akan beraktivitas kuliah secara langsung. Mereka hanya perlu menyiapkan diri mereka seperlunya seperti memakai seragam dan lainnya saat ingin melakukan kelas online.

Di lain sisi, mereka tidak dapat bertemu dengan teman – teman sebaya mereka karena terhalang oleh pandemic ini, yang dimana hal ini merupakan efek negative dibalik keuntungan – keuntungan yang telah disebutkan tadi. Namun bagi para pekerja kantor, faktanya memang pada awal fase covid – 19 masuk Indonesia, sector perkantoran ditutup paksa demi memutus rantai penyebaran covid – 19 dan menghilangkan penyebaran pada “cluster” perkantoran yang kian meresahkan. Namun seiring berjalannya fase new normal saat ini, perlahan sector perkantoran pun mulai dibuka demi memperlancar produktivitas suatu perusahaan tersebut. Namun apabila suatu perusahaan ingin membuka Kembali sector perkantorannya, maka perusahaan tersebut harus menerapkan protocol Kesehatan yang ketat, berdasarkan keterangan dari Menteri Kesehatan.  

Pada saat menjalani fase new normal ini, kita tentunya ditekankan untuk menerapkan berbagai kebiasaan – kebiasaan baru agar kita dan lingkungan sekeliling kita dapat merasa aman, nyaman, dan tentram di saat pandemi covid – 19 ini, termasuk di saat bersosialisasi dengan orang – orang di sekitar kita. Kebiasaan – kebiasaan baru tersebut meliputi :

Pertama, kita harus memakai masker dimanapun dan kapan pun dan tidak diperkenankan untuk melepasnya, baik saat menaiki kendaraan umum, berkendara sendiri, berbincang dengan sekitar, pada saat di tempat umum, sekolah, perkantoran dan yang lainnya untuk mencegah virus covid dan virus – virus lainnya masuk dan menyebar di dalam tubuh kita.

Kedua, kita haruslah sebisa mungkin untuk menjaga jarak dengan sekitar kita dan tidak bergerombol atau membuat suatu perkumpulan, tujuannya sama seperti poin pertama yakni demi mencegah penyebaran virus covid – 19. Lalu apabila diperlukan, kita dapat mengganti media berbincang/bersosialisasi melalui zoom atau media meeting online yang lainnya.

Ketiga, kita harus sebisa mungkin mengurangi waktu kita untuk makan di restoran atau sekedar nongkrong di caf̩ agar tidak membuat suatu gerombolan mirip seperti poin kedua. Dan kita pun dapat menggantinya dengan membeli makanan, minuman, atau kopi yang kita inginkan dengan cara dibungkus atau take away lalu mengonsumsinya di rumah. Langkah tersebut merupakan Langkah terbaik yang harus diambil demi memutus rantai penyebaran covid Р19 dan membasmi cluster Рcluster baru serta mendukung keberlangsungan bisnis suatu rumah makan serta caf̩ Рcaf̩ agar dapat bertahan di saat pandemi covid Р19 ini.

Pada akhirnya, masyarakat harus sadar bahwa penyebaran virus ini akan tidak terkendali manakala anggota masyarakat mengabaikan protokol Kesehatan di masa pandemi. Kita optimis pandemi ini akan berakhir dengan syarat tingkat kesadaran masyarakat dan dukungan pemerintah tinggi. Semoga pandemi virus covid-19 segera berakhir.

*Mahasiswa Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta

Posted by Dedi Purwana

17 komentar untuk "Bersosialisasi Secara Online Saat Pandemi Covid-19"