Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengerek (Turun) Inflasi Ramadhan

Perhelatan ritual tahunan masyarakat muslim sesaat lagi digelar. Ritual tersebut berupa Ramadhan, mudik dan Lebaran. Kehebohan konsumen mulai terasa entah di pasar tradisional maupun pasar modern. Seolah tradisi rutin, konsumen dan produsen memanfaatkan periode ini untuk saling mengejar motif. Konsumen tentu memiliki motif pemenuhan kebutuhan. Meski kadang tidak rasional. Saat yang sama, produsenpun berlomba mengeruk profit semaksimal mungkin.

Momentum tahunan seperti ini mendorong meningkatnya pola konsumsi masyarakat. Pangan dan sandang menjadi komoditas terpopuler pada saat Ramadhan dan hari raya idul fitri. Inflasi terdongkrak akibat konsumsi kebutuhan pokok meningkat tajam. Kesederhanaan sebagai hikmah ramadan tidak berbading lurus dengan perilaku belanja, khususnya di masyarakat perkotaan. Disinilah hukum ekonomi berlaku. Manakala permintaan pangan tinggi, tentu harga akan terkerek naik bahkan cenderung tak terkendali. 

mengerek (turun) inflasi ramadhan

Semestinya, Ramadhan adalah bulan pengendalian diri termasuk pengendalian konsumsi. Namun, fakta membuktikan sebaliknya. Pertemuan momentum religi dengan tradisi budaya menjadikan Ramadhan hajatan nasional. Gairah “perayaan” menumbuhkan potensi pasar. Permintaan barang dan jasa meningkat pesat. Uang beredar lebih banyak dan cepat. Imbasnya, nilai riil uang merosot. Harga mayoritas barang dan jasa melonjak. Inflasi tak terhindari.

Tak heran bila Presiden Jokowi bertekad menjungkirbalikkan harga pangan serendah mungkin Lebaran tahun ini. Orang nomor satu di Indonesia ini misalnya, menginginkan harga daging sapi di bawah 80 ribu rupiah per kilogram. Tentu ini pekerjaan rumah sulit bagi kementerian terkait. Menurunkan harga pangan pada saat Lebaran bukanlah persoalan mudah. Dalam catatan statistik lima tahun terakhir (2011-2015), inflasi musiman tersebut menunjukkan kecenderung tidak pernah turun. Jika dirata-ratakan mendekati 1,28 %. Pertanyaannya, apakah mungkin harga pangan Lebaran tahun ini turun?

Pemicu Harga Naik

Dalam kamus ilmu ekonomi, inflasi musiman seperti Ramadhan dan Lebaran disebut demand pull inflation. Jenis inflasi yang disebabkan oleh peningkatan permintaan dalam waktu tertentu tanpa disertai peningkatan penawaran yang memadai. Ini dimaklumi karena permintaan barang dan jasa meningkat sejak menjelang Ramadhan hingga Lebaran. Peningkatan permintaan didorong oleh kecenderungan budaya konsumtif sesaat sebagai bagian dari semangat perayaan.

Ritual mudik tahunan begitu gegap gempita melebihan perayaan 17 agustusan. Barangkali hanya di Indonesia hari raya idul fitri dimaknai dengan tradisi budaya ini. Mudikpun tidak lepas dari peningkatan pengeluaran. Belanja pakaian, makanan, kendaraan bahkan alat komunikasi merupakan komponen biaya mudik. Mudik dimaknai sebagai gaya hidup. Bagi perantau, inilah kesempatan buktikan kesuksesan finansial kepada keluarga dan kerabat di kampung halaman. Meski kadang untuk alasan ini, orang rela terjebak jeratan hutang.

Di luar itu, inflasi Ramadhan disebabkan peningkatan jumlah uang beredar di masyarakat. Peraturan perundangan yang mewajibkan perusahaan memberikan Tunjangan Hari Raya (THR) dan aliran uang masuk dari tenaga kerja di luar negeri menyebabkan jumlah uang yang beredar meningkat. Belum lagi ditambah rencana pemerintah untuk membayarkan gaji ke-13 dan ke-14 bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) bersamaan menjelang Lebaran. Banyaknya uang beredar mengakibatkan nilai riil uang menjadi turun.

Kendalikan Inflasi

Inflasi musiman sepanjang Ramadhan disusul Lebaran hampir tak mungkin dihindari. Fakta ini membuat sulit untuk mematok harga pangan turun sesuai keinginan Presiden Jokowi. Kendati tidak mudah, beberapa solusi berikut kiranya patut menjadi perhatian.

Pertama, benahi jalur transportasi logistik. Saat musim mudik tiba, transportasi logistik antar daerah pasti terganggu. Antrian panjang truk pengangkut logistik di pelabuhan bukti bahwa persoalan ini tidak pernah terselesaikan. Pasokan pangan ke daerah menjadi terhambat. Akibatnya harga pangan meningkat. Untuk itu, pemerintah harus segera memperbaiki manajemen transportasi darat, udara dan laut.

Kedua, pengamanan persediaan pangan dan Bahan Bakar Minyak (BBM). Bulog seyogianya aktif mengamankan persediaan pangan jauh sebelum puasa Ramadhan. Operasi pasar semestinya diintesifkan selama masa Ramadhan. Operasi pasar diharapkan mampu menekan volatilitas harga pangan. Bila pasokan pangan berlimpah tentu harga akan terkerek turun. Harga pangan tentu dipengaruhi biaya transportasi. Pengendalian persediaan BBM selama Ramadhan hingga Lebaran harus dipastikan aman. kebutuhan minyak hitam meningkat drastis pada musim ini. Kelangkaan BBM tentu akan mendongkrak harga.

Ketiga, meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pola konsumsi. Konsumsi berlebih bukanlah perilaku bijak. Masyarakat harus disadarkan tentang pola hidup hemat. Euforia merayakan Lebaran tidak harus dibarengi dengan pola konsumtif. Bukankah setelah masa ritual ini masyarakat harus tetap menjaga keseimbangan finansialnya. Jangan sampai mampu belanja berlebih saat Ramadhan, namun menghadapi persoalan finansial setelahnya. Belanjalah sesuai kebutuhan bukan atas dasar keinginan atau gengsi.

Keempat, membenahi manajemen arus mudik. Kemacetan yang melelahkan kala mudik membuat boros bahan bakar. Waktu, tenaga dan pikiran terkuras habis pada kondisi tersebut. Taruhannya adalah kecelakaan dalam perjalanan. Pemerintah tentu tidak bisa melarang warganya mudik. Ini tradisi tahunan. Yang bisa dilakukan adalah membenahi pengelolaan jalur mudik. Pemerintah berkewajiban menghadirkan rasa aman, nyaman sekaligus murah saat arus mudik dan arus balik berlangsung. Tentu dengan tidak mengabaikan kelancaran arus transportasi logistik.

Kelima, sinergitas pengampu kepentingan. Kementerian Pertanian, Kementerian Perhubungan, Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral, dan Pemerintah Daerah harus bersinergi agar inflasi musiman terkendali dengan baik. Sinkronisasi program antar instansi menjadi kunci. Ego sektoral harus harus dipangkas. Puasa khusuk, mudik lancar dengan harga terjangkau tentu harapan masyarakat.

Pada akhirnya, instruksi menurunkan harga pangan saat ritual tahunan ini dapat dilaksanakan dengan baik manakala seluruh komponen bangsa terlibat. Saatnya membuktikan apakah inflasi saat Ramadhan dan hari kemenangan dapat dikerek turun sesuai keinginan Presiden Jokowi dan masyarakat. Ini merupakan pecut bagi para menteri terkait agar terus bekerja realisasikannya. Semoga saja mereka mampu membuktikannya.

Artikel terbit di  Media Indonesia, 24 Mei 2016

 

Posting Komentar untuk "Mengerek (Turun) Inflasi Ramadhan"