Postingan

Menulis Artikel Ilmiah – Kesadaran atau Keterpaksaan?

Gambar
Oleh: Prof. Dr. Dedi Purwana E.S., M.Bus. Menulis artikel ilmiah untuk dipublikasikan di jurnal kegiatan yang mengasyik k an. Ini tentu bagi yang sudah terbiasa menulis. Lain halnya, bagi mereka yang tidak terbiasa menulis. Jangankan untuk menulis artikel ilmiah, sekedar menulis artikel opini saja menjadi beban berat. Menuangkan ide dan gagasan ke dalam tulisan memang tidaklah mudah. Perlu latihan intensif agar kemahiran menulis dapat ditingkatkan. Ingatlah, bahwa menyampaikan ide dan pemikiran kita melalui tulisan akan memudahkan pembaca memahami alur pikir ide tersebut. Foto oleh Jess Bailey Designs dari Pexels Rendahnya literasi baca dan tulis merupakan persoalan tersendiri di negara ini. Literasi tulis rendah akibat minat baca yang rendah pula. Mirisnya, kondisi demikian terjadi lingkungan sekolah dan perguruan tinggi. Para akademisi dan guru seolah tidak mampu meningkatkan budaya baca dan tulis. Bagaimana kita berharap mahasiswa dan siswa memiliki minat baca tulis tinggi,

Etika Bisnis dan Pendidikan

Gambar
Oleh: Dedi Purwana Dalam sistem perekonomian pasar bebas, perusahaan diarahkan untuk mencapai tujuan mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin, sejalan dengan prinsip efisiensi. Namun, dalam mencapai tujuan tersebut pelaku bisnis kerap menghalalkan berbagai cara tanpa peduli apakah tindakannya melanggar etika dalam berbisnis atau tidak. Foto oleh Polina Tankilevitch dari Pexels Hal ini terjadi akibat manajemen dan karyawan yang cenderung mencari keuntungan semata sehingga terjadi penyimpangan norma-norma etis, meski perusahaan-perusahaan tersebut memiliki code of conduct dalam berbisnis yang harus dipatuhi seluruh organ di dalam organisasi. Penerapan kaidah good corporate governace di perusahaan swasta, BUMN, dan instansi pemerintah juga masih lemah. Banyak perusahaan melakukan pelanggaran, terutama dalam pelaporan kinerja keuangan perusahaan. Prinsip keterbukaan informasi tentang kinerja keuangan bagi perusahaan terdaftar di BEJ, misalnya seringkali dilanggar dan jelas merugi

Menegakkan (Lagi) Kedaulatan Maritim

Gambar
 Oleh: Dedi Purwana E.S. Sebait syair lagu berjudul Nenek Moyangku Seorang Pelaut menggambarkan betapa gagah beraninya nenek moyang kita. Sosok yang gemar mengarungi luas samudera tanpa rasa takut. Sejarah membuktikan Kerajaan Majapahit dan Sriwijaya telah berhasil mempersatukan wilayah Nusantara. Jangkauan pelayaran dua kerajaan tersebut bahkan jauh hingga Madagaskar. Namun, kejayaan maritim masa lampau telah redup. Bangsa ini tertatih-tatih menjaga kedaulatan lautnya sendiri. Tak satu pun negara di dunia yang memiliki jumlah pulau sebanyak Indonesia. Foto oleh Nick Bondarev dari Pexels Garis pantai yang dimiliki terpanjang di dunia. Data geografis menunjukkan bangsa ini memiliki daratan seluas 1.910.931,32 km2 dan lautan terhampar seluas 3.544.743,9 km2. Keanekaragaman hayati di dalamnya anugerah tak ternilai bagi bangsa ini. Sumber daya laut bernilai 8,6% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2015. Manakala dioptimalkan lagi, tentu kontribusinya akan jauh lebih besar. Ironi

POSTINGAN TERPOPULER

7 Tips Menentukan Topik (bukan judul) Skripsi

Teknologi Informasi menjadi Inovasi dalam Berwirausaha?

Perempuan Di Lumbung Kemiskinan