Postingan

Jurnal Ilmiah Predator Bikin Horor

Gambar
Oleh: Dedi Purwana Sudah jatuh tertimpa tangga pula itulah kira-kira analogi yang menggambarkan korban jurnal ilmiah predator. Korban jurnal predator tidak hanya dari kalangan mahasiswa program magister dan doktoral, akan tetapi tidak sedikit dosen mengalami nasib serupa. Entah siapa yang harus disalahkan. Sudah bayar mahal eh artikel tidak diakui sebagai persyaratan usulan kenaikan jabatan akademik bagi dosen, atau penundaan ujian disertasi karena artikel yang dipublikasikan sebagai syarat kelulusan dinyatakan discontinued pada database jurnal internasional bereputasi. Foto oleh Brett Jordan dari Pexels Para korban terkaman jurnal predator lebih pada ketidaktahuan karena minimnya pemahaman akan kualitas jurnal internasional bereputasi atau memang sebenar sudah tahu bahwa jurnal tersebut predator namun karena ingin cepat terpublikasikan berapapun Article Publication Charge (APC) nya hajar saja. Mereka berpikir instan, toh yang penting bisa lolos administrasi persyaratan u

Tips dan Trik Tembus Jurnal Ilmiah Bereputasi

Gambar
Oleh: Dedi Purwana Sobat dunia kampus, menulis artikel untuk dipublikasikan pada jurnal ilmiah bereputasi, tentu berbeda dengan menulis artikel opini. Energi, waktu, dan biaya yang dicurahkan untuk menulis artikel ilmiah lebih besar dibanding menulis artikel opini. Kewajiban mempublikasikan produk skripsi, tesis dan disertasi pada jurnal ilmiah menjadi momok tersendiri bagi insan dunia kampus. Bahkan sebenarnya kewajiban ini pun menjadi beban berat bagi dosen. Bagaimana tidak menjadi beban, sementara universitas mewajibkan mahasiswa publikasi ilmiah sedangkan dosen tidak mampu menjadi role model bagaimana menulis artikel ilmiah yang mampu menembus jurnal bereputasi. Jangankan tembus jurnal ilmiah bereputasi, untuk sekedar mempublikasikan artikel ilmiah di jurnal lokal masih belum mampu. Foto oleh Andrea Piacquadio dari Pexels   Tulisan ini mencoba memberikan guideline strategi tembus jurnal ilmiah bereputasi, entah nasional maupun internasional. Menyadur dari buku “ Lincah Menuli

Wirausaha Pilihan Hidup

Gambar
 Oleh: Dedi Purwana Ketika anda telah menyelesaikan studi di perguruan tinggi, itu sebenarnya awal perjalanan mengarungi dunia kehidupan nyata. Nyata karena bisa saja apa yang anda dapatkan di bangku kuliah, tidak sejalan dengan realita. Teori dan ketrampilan yang anda peroleh ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja. Akhirnya pilihan anda setelah lulus hanya 3, yaitu menjadi pekerja, wirausaha, dan pengangguran. Tentu pilihan ketiga bukan opsi yang diinginkan orang tua. Jadi pilihannya tersisa 2 – bekerja atau berwirausaha. Foto oleh Andrea Piacquadio dari Pexels Ok, katakanlah anda memilih bekerja selepas kuliah. Pertanyaannya, berapa gaji pertama yang akan diperoleh? Dibawah UMR, sama dengan UMR atau di atas UMR? Berapapun gaji yang diterima, pernahkah anda menghitung investasi orang tua yang menyekolahkan anda sejak TK hingga perguruan tinggi? Ambil kalkulator atau buka excell di notebook anda. Coba hitung total   biaya pendidikan yang sudah dikeluarkan orang tu

POSTINGAN TERPOPULER

7 Tips Menentukan Topik (bukan judul) Skripsi

Teknologi Informasi menjadi Inovasi dalam Berwirausaha?

Perempuan Di Lumbung Kemiskinan