Jurnal Ilmiah Predator Bikin Horor

Oleh: Dedi Purwana

Sudah jatuh tertimpa tangga pula itulah kira-kira analogi yang menggambarkan korban jurnal ilmiah predator. Korban jurnal predator tidak hanya dari kalangan mahasiswa program magister dan doktoral, akan tetapi tidak sedikit dosen mengalami nasib serupa. Entah siapa yang harus disalahkan. Sudah bayar mahal eh artikel tidak diakui sebagai persyaratan usulan kenaikan jabatan akademik bagi dosen, atau penundaan ujian disertasi karena artikel yang dipublikasikan sebagai syarat kelulusan dinyatakan discontinued pada database jurnal internasional bereputasi.

dunia kampus cek jurnal predator
Foto oleh Brett Jordan dari Pexels

Para korban terkaman jurnal predator lebih pada ketidaktahuan karena minimnya pemahaman akan kualitas jurnal internasional bereputasi atau memang sebenar sudah tahu bahwa jurnal tersebut predator namun karena ingin cepat terpublikasikan berapapun Article Publication Charge (APC) nya hajar saja. Mereka berpikir instan, toh yang penting bisa lolos administrasi persyaratan untuk ujian tesis atau sidang disertasi atau bahkan untuk kenaikan jabatan akademik. Padahal sudah jelas tersurat pada pedoman Penilaian Angka Kredit (PAK) 2019 bahwa artikel yang terpublikasi pada jurnal berkategori discontinued tidak dapat dijadikan sebagai pemenuhan karya ilmiah syarat khusus pengusulan guru besar/ Professor. Kalaupun artikel tersebut tetap disertakan untuk dinilai oleh tim reviewer PAK Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, nilai KUM dari artikel tersebut akan turun drastis. Bisa jadi nilai KUMnya akan disetarakan jurnal nasional.

Sering dosen atau mahasiswa berargumen “artikel saya terbit sebelum jurnal tersebut dinyatakan discontinued, berarti memenuhi syarat dong untuk kenaikan jabatan akademik atau persyaratan ujian doktoral?”. Mari berfikir objektif, jurnal tidak akan discontinued manakala tim editor jurnal mempertahankan mati-matian dalam proses review setiap artikel yang disubmit. Maka imbasnya adalah apapun artikel yang sudah dipublikasikan sebelum jurnal tersebut discontinued, tetap dicap jurnal bermasalah.

Oleh karenanya, daripada sudah jatuh tertimpa tangga pula, ada baiknya mencermati ciri-ciri jurnal predator.

Pertama, Jurnal menawarkan janji proses cepat dalam mereview artikel. Layaknya promosi iklan produk, mereka tawarkan proses review artikel secara fast-track. Proses review kurang dari satu bulan bahkan satu minggu pengirim artikel sudah mendapat jawaban artikel diterima. Selanjutnya, editor segera menerbitkan letter off acceptance. Disinilah penulis artikel harus cerdas. Proses review yang benar membutuhkan waktu yang lama, bisa 3 sampai 6 bulan. Ingat, mereview jurnal bukan pekerjaan utama para reviewer tersebut. Mereka bekerja secara suka rela (alias tidak diberi honor). Tawaran proses review cepat biasanya dikirim ke email para korban secara terang benderang. Disinilah penulis artikel harus cerdas. Ibarat membeli produk, apakah keputusan untuk membeli produk tersebut hanya berdasarkan rayuan iklan?

Kedua, jurnal cenderung transaksional. Jurnal terindikasi transaksional dapat dilihat dari jumlah artikel yang berlebihan dalam terbitan di setiap volume dan issue nya. Ada baiknya cek dengan teliti riwayat terbitan setiap volumenya. Menjadi janggal misalnya pada volume ke sekian, tahun sekian setiap issue hanya menerbitkan10 artikel. Secara tiba-tiba volume berikutnya tahun berikutnya terjadi lonjakan jumlah artikel setiap issue menjadi 100 bahkan 500 artikel setiap issue. Bisa dibayangkan kalau setiap artikel APC nya $ 500 - $750, kalikan saja dengan total artikel yang terbit disetiap issue. Contoh lain jurnal tersebut biasanya hanya menerbitkan artikel sebanyak 4 issue per volume (per triwulan), tiba-tiba membuat kebijakan menjadi 12 issue per volume (setiap bulan). Bahkan sering ditambah lagi dengan supplementary di setiap issue.

Ketiga, tidak ada batasan jumlah artikel yang diterbitkan dari seorang penulis. Sekali lagi perhatikan artikel yang terbit dinseyiap isu. Pada jurnal predator akan ditemukan seorang penulis bisa mempublikasikan lebih dari satu artikel di setiap isuenya. Tidak peduli topiknya berkaitan atau tidak dengan scope jurnal. Oleh karenanya, seringkali artikel yang terbit di setiap issue didominasi oleh penulis dari satu atau dua negara tertentu. Sejatinya bila jurnal tersebut mengklaim sebagai jurnal internasional bereputasi, keragaman asal negara para penulis harus menjadi perhatian.

Keempat, jurnal menerima apapun artikel meskipun topiknya tidak sesuai scope/ cakupan jurnal. Jurnal dengan scope teknik/engineering menerima juga artikel terkait sosial humaniora atau sebaliknya. Yang penting penulis artikel bersedia membayar APC. Kejelian dan ketelitian sangat diperlukan. kembali cek setiap artikel terbit pada setiap volume dan issue. Apakah artikel-artikel tersebut sesuai dengan scope jurnal atau melenceng?

Kelima, rekam jejak jurnal meragukan. Penelusuran rekam jejak penting dilakukan. Ibarat meminang calon istri atau suami, tidak ada salah cari tahu bibit, bobot dan bebet. Cara sederhana, lakukan rekam jejak di Scimago Journal Ranking (SJR) untuk jurnal terindeks Scopus. Cek komentar-komentar dari para penulis yang telah publikasikan artikelnya di jurnal tersebut. Manakala ada komentar miring tentang jurnal tersebut, itu artinya kualitas jurnal diragukan. Berkunjung ke laman https://pak.kemdikbud.go.id adalah cara lain untuk mendapatkan pemahaman tentang jurnal yang terindikasi predator dan diblack list oleh Direktotat Jenderal Pendidikan Tinggi. Tidak ada salahnya cek juga ke Beall’s list (https://beallslist.net/). Disitu ditampilkan daftar jurnal yang berpotensi bermasalah (meski daftar bell sering diperdebatkan). Laman Beall’s tentu menjadi screening awal yang baik ketika membidik jurnal ilmiah bereputasi.

Keenam, selalu update discontinued list yang dirilis setiap bulan. Belakangan ini scopus mulai menyadari banyaknya korban rayuan jurnal predator. Sebelumnya mereka update database setahun sekali, sehingga Banyak korban yang baru mengetahui bahwa artikel mereka terbit dijurnal bermasalah setahun kemudian. Saat ini scopus secara rutin setiap bulan merilis daftar tambahan jurnal yang discontinued. Para penulis artikel tidah harus menunggu release resmi dari scopus di tahun berikutnya. Pengawasan ketat dari pihak Scopus secara rutin, tentunya sangat membantu para penulis dalam meningkatkan kewaspadaan.

Mari kita bertekad hentikan lebih banyak korban serangan jurnal predator. Katakan tidak pada rayuan jurnal predator. Ketidakpaham kita tentang kualitas jurnal, sasaran empuk bagi pengelola jurnal predator mengeruk pundi-pundi dollar dari para penulis di tanah air. Semoga bermanfaat bagi sobat dunia kampus.


Komentar

  1. Terimakasih prof artikelnya menambah pengetahuan saya tentang jurnal ilmiah🙏🏻

    BalasHapus
  2. Terima Kasih Pak Prof Dedi atas sharingnya, sangat bermanfaat sekali.

    BalasHapus

Posting Komentar

POSTINGAN TERPOPULER

7 Tips Menentukan Topik (bukan judul) Skripsi

Teknologi Informasi menjadi Inovasi dalam Berwirausaha?

Perempuan Di Lumbung Kemiskinan