Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2020

Menulis artikel OPINI itu mudah?

Gambar
  Oleh : Dedi Purwana & Agus Wibowo Menjawab judul di atas, tidak mudah juga. Bagi mereka yang entah karena hobi atau pekerjaan menulis sebagai sebuah profesi, jawabannya mudah. Tapi tentu tidak mudah bagi mereka yang menulis karena terpaksa. Terpaksa karena harus menyelesaikan tugas-tugas mata kuliah, atau karena kewajiban harus menyelaikan tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi bahkan laporan penelitian. Saat kondisi terpaksa, tentu menulis merupakan beban berat. Apalagi diwajibkan menulis artikel ilmiah untuk publikasi di jurnal bereputasi. Foto oleh Andrea Piacquadio dari Pexels Kali ini kita tinggalkan sejenak keruwetan menulis artikel ilmiah dan beralih ke ragam tulisan lain yaitu artikel kolom opini. Opini merupakan tulisan dalam media massa cetak atau online yang memasukkan pendapat penulis di dalamnya. Pendapat pribadi penulis — bukan analisis — lebih diutamakan dalam tulisan opini. Oleh karenanya, paparan dalam opini lebih bersifat sub j ektif.  Sementara dalam a

Tips & Trik Menyiasati Penolakan Artikel Ilmiah

Gambar
  Oleh: Prof. Dr. Dedi Purwana E.S., M.Bus. Masih ingat postingan sebelumnya tentang 8 (delapan) alasan mengapa artikel ilmiah ditolak ? Meski perasaan mengharu biru saat menerima surat cinta penolakan dari editor atau reviewer artikel, jangan berlarut dalam kesedihan. Toh, d unia tidak akan runtuh hanya karena artikel kita ditolak editor atau reviewer jurnal – life must go on ! Manakala Anda menerima email penolakkan, jangan panik. Sebaiknya tenangkan kekalutan perasaan dan pikiran. Langkah bijak adalah mem baca alasan penolakkan dengan seksama dan lupakan sejenak untuk beberapa hari.  Foto oleh cottonbro dari Pexels Tiga hal yang perlu anda pertimbangkan. Pertama , ingatlah bahwa anda tidak sendirian. H ampir sebagian besar penulis kawakan pernah menerima penolakan artikel. Kedua , biarkan diri anda merasa sedih, marah dan tertekan. Itu manusiawi , akan tetapi jangan berlarut meratapi kesedihan akan nasib artikel . Ketiga ,   setelah kemarahan dan kesedihan anda reda, tar

Mengapa Artikel Ilmiah Ditolak?

Gambar
Oleh: Prof. Dr. Dedi Purwana E.S., M.Bus. Pernah kah anda memiliki pengalaman artikel yang dikirim ke sebuah jurnal, setelah menunggu sekian lama ternyata ditolak? Perasaan campur aduk bergema - marah, sakit hati, tidak nafsu makan, patah semangat berbaur menjadi satu. Bagi penulis pemula, kata penolakan dari dewan editor dan reviewer jurnal merupakan momok menakutkan. Padahal penolakkan juga kerap kali dihadapi penulis berpengalaman. Perbedaan hanya terletak pada kesiapan psikologis penulis kala artikel yang sudah dipersiapkan secara matang akhirnya ditolak.  Foto oleh Roberto Hund dari Pexels Bagi penulis pemula, penolakan seringkali menurunkan semangat menulis. Bayangkan sudah habis energi pikiran, tenaga dan waktu tercurah untuk menulis artikel ilmiah, ternyata imbalan yang diperoleh hanya kata “ your article is rejected ” atau “ your article needs major revision ”. Namun, bagi penulis berpengalaman, penolakan artikel dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Penolakkan di

POSTINGAN TERPOPULER

7 Tips Menentukan Topik (bukan judul) Skripsi

Teknologi Informasi menjadi Inovasi dalam Berwirausaha?

Perempuan Di Lumbung Kemiskinan