Mengapa Artikel Ilmiah Ditolak?

Oleh: Prof. Dr. Dedi Purwana E.S., M.Bus.

Pernah kah anda memiliki pengalaman artikel yang dikirim ke sebuah jurnal, setelah menunggu sekian lama ternyata ditolak? Perasaan campur aduk bergema - marah, sakit hati, tidak nafsu makan, patah semangat berbaur menjadi satu. Bagi penulis pemula, kata penolakan dari dewan editor dan reviewer jurnal merupakan momok menakutkan. Padahal penolakkan juga kerap kali dihadapi penulis berpengalaman. Perbedaan hanya terletak pada kesiapan psikologis penulis kala artikel yang sudah dipersiapkan secara matang akhirnya ditolak. 

Mengapa Artikel Ilmiah Ditolak?
Foto oleh Roberto Hund dari Pexels

Bagi penulis pemula, penolakan seringkali menurunkan semangat menulis. Bayangkan sudah habis energi pikiran, tenaga dan waktu tercurah untuk menulis artikel ilmiah, ternyata imbalan yang diperoleh hanya kata “your article is rejected” atau “your article needs major revision”. Namun, bagi penulis berpengalaman, penolakan artikel dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Penolakkan dianggap sebagai  peluang belajar untuk kesempurnaan artikel dikemudian hari.

Lalu pertanyaannya, mengapa sebuah artikel jurnal ditolak? Peter Thrower (https://www.elsevier.com/connect/8-reasons-i-rejected-your-article) mengidentifikasikan setidaknya ada 8 (delapan) alasan mengapa artikel ditolak editor atau reviewer jurnal tertentu:

Pertama, artikel gagal memenuhi persyaratan teknis. Entah penulis pemula ataupun berpengalaman sekalipun seringkali mengabaikan persyaratan teknis agar artikel dapat dipublikasikan pada jurnal yang dituju. Alasan utama editor atau reviewer jurnal menolak artikel terkait beragam aspek teknis, diantaranya: 1) artikel memuat sebagian elemen yang dicurigai plagiasi; 2) naskah artikel yang diterima oleh editor sebuah jurnal ditengarai sedang direview oleh jurnal lain; 3) artikel tidak lengkap (tidak sesuai template jurnal); 4) artikel ditulis dengan bahasa yang tidak baik; dan 5) kepustakaan atau literature artikel tidak lengkap atau sangat usang.

Kedua, artikel tidak sesuai dengan tujuan (aims) dan cakupan (scope) jurnal. Editor jurnal menolak sebuah artikel dikarenakan substansi artikel tersebut tidak sesuai dengan bidang kajian jurnal. Penulis pemula seringkali mengirimkan artikel ke jurnal yang salah. Misalnya artikel dengan substansi manajemen dikirim ke jurnal yang tidak dikhususkan untuk kajian manajemen. Atau kajian artikel terkait dengan manajemen, namun fokus artikel ternyata berbeda (bukan manajemen).

Ketiga, artikel tidak komprehensif. Editor akan menolak artikel yang hanya memaparkan observasi semata bukan kajian mendalam. Artinya, artikel hanya memaparkan data deskriptif tanpa menganalisis secara mendalam. Ingatlah, kedalaman kajian dari sebuah artikel menjadi pertimbangan serius dewan editor dan reviewer. Adakalanya editor dan reviewer pun menolak artikel dikarenakan hanya memaparkan sebagian temuan dalam kaitan dengan beberapa pekerjaan tetapi mengabaikan pekerjaan penting lainnya. Disinilah mengapa artikel harus membahas hasil temuan secara menyeluruh.

Keempat, prosedur dan atau analisis data terlihat cacat. Editor dan reviewer jurnal acapkali menilai prosedur dan metode analisis data yang disajikan dalam artikel. Penolakan pada bagian ini lebih disebabkan kajian kurang jelas menggambarkan kelompok kontrol atau ukuran pembanding, terutama dalam penelitian eksperimen. Selain itu, editor dan reviewer akan menolak artikel yang prosedur dan metodologi kajian tidak sesuai sehingga tidak dapat dilakukan pengulangan. Editor dan reviewer pun akan menolak artikel manakala analisis statitik tidak valid atau tidak mengikuti kaidah yang berlaku sesuai disiplin ilmu.

Kelima, kesimpulan tidak dapat dijustifikasi berdasarkan bagian-bagian artikel lainnya. Penolakan terjadi ketika argumen yang disusun dalam artikel tidak logis, tidak terstruktur dan invalid. Kesimpulan seharusnya menjawab rumusan masalah. Editor dan reviewer akan menolak artikel yang memaparkan data namun tidak mendukung kesimpulan. Selain itu, kesimpulan seringkali mengabaikan sebagian besar kajian pustaka/ literatur.

Keenam, artikel hanya sekedar perluasan kecil dari artikel lain, bahkan dari penulis yang sama. Editor menyukai artikel yang utuh. Artikel yang hanya memuat temuan bersifat tambahan dan tidak ada keterbaharuan keilmuan jelas akan ditolak. Selain itu, editor tidak menyukai kajian yang merupakan bagian dari studi yang lebih besar. Atau dengan kata lain, hanya memotong-motongnya untuk dibuat sebanyak mungkin artikel. Kasus seperti ini banyak ditemukan pada artikel hasil disertasi. Mahasiswa program doktoral dihadapkan pada kewajiban penyelesaian studi yang menyaratkan mereka harus mempublikasikan minimum 2 atau 3 artikel di jurnal internasional bereputasi, acapkali menulis artikel dengan memotong bagian disertasi (tidak utuh).

Ketujuh, artikel sulit dimengerti. Penilaian akan sulit dilakukan editor dan reviewer manakala sebuah artikel ditulis dengan bahasa, struktur kalimat, atau angka sangat buruk. Ini berlaku bagi jurnal entah berbahasa Indonesia ataupun berbahasa Inggris. Penulis pemula seringkali abai terhadap bahasa baku yang berlaku dalam karya ilmiah. Ingatlah menulis artikel untuk kepentingan jurnal tentu berbeda dengan artikel opini untuk di media massa.

Kedelapan, artikel membosankan. Editor dan reviewer jurnal bereputasi tentu menerima dan menyeleksi ratusan bahkan ribuan artikel dalam satu periode tertentu. Mereka tentu mampu mendeteksi mana artikel yang hanya sekedar arsip, tambahan atau bahkan tidak diminati dalam disiplin keilmuan. Mereka juga akan menolak artikel yang tidak memiliki novelty (kebaharuan) dalam disiplin keilmuan tertentu. Alasan penolakkan lainnya, karya tidak diminati pembaca khusus di jurnal tersebut.

Sebagai penutup, adalah bijak sebelum mengirimkan artikel ke jurnal sasaran periksa kembali dengan cermat apakah kedelapan alasan penolakan diatas melekat pada artikel yang anda tulis. Pada akhirnya, sepahit apapun alasan penolakan artikel anda, jadikan itu sebagai pemicu semangat untuk memperbaikinya, bukan mematahkan semangat untuk terus berkarya.  Bagaimana menulis artikel dengan baik, silakan baca buku Lincah Menulis Artikel Ilmiah Populer & Jurnal (Teori & Praktik). []

 

Komentar

POSTINGAN TERPOPULER

7 Tips Menentukan Topik (bukan judul) Skripsi

Teknologi Informasi menjadi Inovasi dalam Berwirausaha?

Perempuan Di Lumbung Kemiskinan